Menjadi wartawan sudah menjadi cita-cita saya sejak di bangku kuliah.
Kini, tidak terasa sudah 23 tahun, saya menjadi jurnalis.
SAYA mengawali karir sebagai wartawan di kepolisian pada September 2000.
Ada banyak pengalaman unik, haru, hingga menegangkan saya alami saat meliput.
Pengalaman mengharukan saat saya meliput tahanan kasus penusukan yang menikah. Kejadiannya sudah cukup lama.
Pelaku ditahan di Mapolsek Semarang Tengah seminggu sebelum hari H pernikahan.
Gara-garanya dia nekat menusuk majikannya karena ketahuan mencuri.
Dia butuh uang buat menikah.
Lalu, nekat mencuri hingga tepergok sang majikan.
Karena panik, sang majikan ditusuk pisau.
Hari H pernikahan datang.
Tak bisa digagalkan. Karena undangan sudah tersebar.
Dikawal lima anggota Reskrim berbaju batik, tersangka diantar menuju lokasi akad nikah di rumah mempelai wanita di Gajahmungkur, Kota Semarang.
Saya sendiri terlambat datang.
Sampai mapolsek pukul 07.30, ternyata rombongan sudah berangkat.
Saya yang juga pakai baju batik akhirnya menyusul.
Sampai di lokasi, acara akad nikah sudah akan dimulai.
Suasananya haru.
Banyak yang menangis.
Pengantin wanita matanya sembab.
Sepertinya tak henti menangis.
Keluarga kedua mempelai tak menyangka pernikahan itu harus dikawal polisi.
Momen bahagia berubah menjadi hujan air mata.
Meliput acara seperti ini tentu harus hati-hati.
Bahkan, harus menyamar.
Tentu keluarga mempelai tidak mau terekspose.
Dianggap aib.
Untungnya, lima polisi yang mengawal sudah sangat kenal dengan saya.
Sehingga selalu membantu saya.
“Masnya dari mana?”
Saya ditanya keluarga mempelai wanita.
Saya jawab “Dari polsek Pak.”
Jawaban saya kan nggak salah.
Karena saya memang berangkatnya dari Mapolsek Semarang Tengah hehehe…
Rupanya pihak keluarga khawatir yang datang wartawan.
Sebab, saat peristiwa penusukan, sudah diberitakan di koran.
Saya pun duduk di dekat lima polisi yang mengawal mempelai pria.
Saya sempat motret acara ijab kabul. Lagi-lagi ditanya oleh pihak keluarga.
“Mas buat apa motret-motret?”
Saya jawab “Buat dokumentasi.”
Untungnya, bapak-bapak polisi membela saya.
Momen mengharukan itu pun terekam di kamera saya.
Saya tidak wawancara.
Saya hanya mendiskripsikan semua yang terjadi di lokasi.
Termasuk saat mempelai wanita dan keluarganya menangis histeris ketika mempelai pria dimasukkan mobil patroli dan dibawa kembali ke mapolsek usai akad nikah.
Besoknya, berita itu pun dimuat di koran.
Fotonya besar.
Dan, heboh.
Eksklusif, karena media lain nggak ada.
Sedangkan liputan menegangkan saat mengungkap pungli yang dilakukan preman pasar di Genuk, Kota Semarang.
Kejadiannya sudah lama.
Salah satu narasumber saya pengurus LPMK yang saya temui di kantor kelurahan.
Nah, begitu berita itu termuat dan menjadi headline, para preman tidak terima.
Ada puluhan orang menggeruduk kantor kelurahan.
Padahal saat itu saya sedang di kantor kelurahan tersebut untuk melakukan running berita.
Pedagang yang merasa ditarik pungli tak terima juga dengan aksi para preman itu.
Mereka juga mendatangi kantor kelurahan. Sempat ricuh.
Melihat kondisi itu, sekretaris lurah lantas meminta saya sembunyi di ruang kerjanya.
“Mas, nggak usah keluar. Bahaya. Para preman itu juga mencari wartawan yang menulis,” kata seklur itu.
Khawatir terjadi ricuh yang parah, pihak kelurahan lantas mengontak pihak polsek.
Tak lama kemudian, anggota polisi datang dengan mobil kancil (mobil patroli, Red).
Akhirnya kasus itu diselesaikan di mapolsek.
Semua preman diangkut ke mapolsek, termasuk perwakilan pedagang.
Setelah situasi kondusif, saya diminta keluar oleh Pak Lurah.
Peristiwa itu pun saya tulis kembali dan menjadi headline keesokan harinya.
Cukup menegangkan tapi asyik.
Lagi-lagi, hanya saya yang memberitakan kejadian itu.
Media lain nggak ada.
Eksklusif. (*)
Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Magelang
Editor : H. Arif Riyanto