Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Banjir Lahar Dingin Bangkitkan Ingatan Warga pada Erupsi Gunung Merapi Magelang

Puput Puspitasari • Rabu, 4 Maret 2026 | 23:57 WIB

 

Banjir lahar dingin, Selasa (3/3/2026) kemarin menerjang Sungai Pabelan hingga melewati jembatan penghubung Desa Gondosuli dan Desa Surodadi, Kabupaten Magelang.
Banjir lahar dingin, Selasa (3/3/2026) kemarin menerjang Sungai Pabelan hingga melewati jembatan penghubung Desa Gondosuli dan Desa Surodadi, Kabupaten Magelang.

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Debur Sungai Pabelan pada Selasa (3/3/2026) sore seolah membangkitkan kembali ingatan warga di Desa Surodadi, Kecamatan Sawangan, akan terjadinya banjir lahar dingin Desember 2010 lalu.

Meski tak sebesar dulu, air yang bercampur material vulkanik dari Gunung Merapi itu tetap menghanyutkan beberapa sawah yang berada di tepian sungai.

Tarmini, 64, warga Surodadi merenung, sambil menatap dua petak sawahnya yang terbawa air.

Sawah itu ditanami cabai untuk ketiga kalinya, sejak erupsi Gunung Merapi 2010 lalu.

“Baru dua kali panen, dan sedang saya tanami bibit cabai, tinggal metik, menunggu cabainya merah. Tapi kemarin hanyut semua,” tuturnya sambil menunjuk ke arah sungai.

Bagi Tarmini, kesedihan ini bukan kali pertama.

Ia juga pernah kehilangan tiga petak sawah dan kayu sengon sedang direndam pada erupsi tahun 2000.

Banjir lahar dingin menghabiskan semua yang ia punya.

“Dulu, saya sedih sekali. Tidak bisa tidur sampai pukul 02.00. Sawah dan kayu sengon yang rencananya untuk usuk rumah, tersapu air. Hanyut semua. Sekarang kejadian lagi,” ujarnya.

Sejak tahun 2000 itu, Tarmini lebih banyak menambang pasir secara manual di Sungai Pabelan.

Beberapa warga yang sudah tidak memiliki sawah juga melakukan kegiatan yang sama. Turun ke sungai mulai pukul 07.00 sampai 12.00 untuk mencari pasir dan dikumpulkan di tepi sungai untuk dijual.

“Kalau matahari sudah panas, istirahat dulu. Tapi ada yang setelah Zuhur, turun lagi mencari pasir,” ungkapnya.

Beruntung, saat terjadi banjir lahar dingin Selasa sore itu, tidak ada aktivitas penambangan di sungai.

Di sekitar wilayahnya, juga sedang turun hujan.

“Sebetulnya, jam segitu tidak deras. Di sini gerimis, mungkin yang deras di hulu sungai. Tiba-tiba suara dari sungai kencang sekali, ternyata banjir,” terangnya.

Banjir tersebut membawa pasir, batu, juga kayu.

Bahkan ada akar bambu yang menyumbat empat lubang jalan air, dari delapan lubang yang ada.

“Kita takut dongklak (akar air, Red) itu menyumbat dan membuat air meluap, sehingga jembatannya ambrol lagi. Khawatirnya di situ,” ucapnya.

Menurutnya, setelah banjir sore itu, banyak sekali tim relawan dan warga sekitar yang membersihkan jembatan penghubung Desa Gondosuli, Kecamatan Muntilan, dan Desa Surodadi, Kecamatan Sawangan.

Para relawan juga terlihat membawa sekitar lima mesin senso kayu. Proses pembersihan di sekitar jembatan berlangsung setelah waktu buka puasa sampai pukul 23.00.

Pantauan Jawa Pos Radar Magelang, jembatan penghubung Desa Gondosuli dan Desa Surodadi itu sudah bisa dilewati pada Rabu (4/3/2026).

Warga melintas dengan hati-hati.

Terlihat masih ada akar kayu yang menyumbat jalan air, serta satu pohon yang tersangkut di jembatan.

Pohon tersebut memiliki bekas ditebang menggunakan mesin kayu—pascapembersihan oleh tim relawan.

Selain itu, beberapa pembatas  jembatan nampak rusak, terutama di bagian tengah jembatan.

Warga juga tampak berhenti untuk melihat seberapa besar dampak banjir lahar dingin Selasa sore itu.

Terlihat lebar sungai semakin luas, dan banyak batu-batu ukuran besar yang terbawa air. (put/lis)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#gunung merapi #Sungai Pabelan #banjir lahar dingin #material vulkanik #Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi