RADARMAGELANG.ID, Wonosobo — Tingkat kerukunan umat beragama di Kabupaten Wonosobo menunjukkan tren positif.
Pada 2025, indeks kerukunan umat beragama di daerah ini mencapai 86 persen. Angka tersebut naik dibanding tahun sebelumnya sebesar 83 persen.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Wonosobo Agus Kristiyono mengatakan, capaian tersebut melampaui rata-rata Provinsi Jawa Tengah maupun nasional yang masih berada di kisaran 70 persen.
Menurutnya, angka itu menjadi indikator kuat bahwa masyarakat Wonosobo mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman.
“Ini menunjukkan warga Wonosobo hidup rukun, saling tolong-menolong, dan memiliki semangat damai yang tinggi,” ujarnya saat membuka pelatihan bertajuk Bangun Kelembagaan, Wujudkan Persatuan untuk Peningkatan Kapasitas SDM dan Kelembagaan bagi Organisasi Masyarakat yang Adaptif yang digelar Komunitas Jurnalis Wonosobo (KJW) di Dieng Kledung Pass Hotel, Rabu (29/4/2026).
Menurut dia, tingginya indeks kerukunan mencerminkan hubungan antarwarga dengan latar belakang keyakinan berbeda berjalan baik.
Masyarakat dinilai mampu hidup berdampingan tanpa konflik berarti.
“Setiap tahun indeks kita naik. Artinya, hubungan antarumat beragama di Wonosobo semakin baik,” katanya.
Ia menjelaskan, kerukunan umat beragama tercermin dari kebebasan masyarakat menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.
Saling menghormati hari besar keagamaan, menjaga tempat ibadah, hingga gotong-royong membantu sesama tanpa memandang agama.
Selain itu, masyarakat juga dinilai mampu menahan diri dari tindakan provokatif. Seperti menyebar kebencian, merusak rumah ibadah, maupun menghalangi orang lain beribadah.
Agus menambahkan, tujuan utama menjaga kerukunan adalah memperkuat persatuan NKRI, menciptakan keamanan dan ketertiban, serta mendukung pembangunan daerah.
Dia juga menyinggung konsep tri kerukunan umat beragama, yakni kerukunan intern umat seagama, kerukunan antarumat beragama, dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah.
“Agama harus menjadi solusi, bukan sumber masalah,” tegasnya.
Menurut Agus, kerukunan bisa terus dirawat melalui peran tokoh agama yang menyejukkan, literasi keagamaan yang benar, serta kehadiran pemerintah yang adil bagi semua kelompok masyarakat. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo