RADARMAGELANG.ID, Wonosobo — Jembatan penghubung antardusun di Desa Kalikuning, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, amblas diterjang longsor, Selasa (17/2/2026) sore.
Empat orang mengalami luka setelah terjatuh saat melintas di jembatan tersebut.
Jembatan yang menghubungkan Dusun Ngadiloka dan Dusun Semampir serta menjadi jalur menuju Desa Lamuk Kecamatan Kalikajar itu runtuh setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut secara terus-menerus.
Debit sungai meningkat, menggerus tanah penyangga hingga struktur tak lagi mampu bertahan.
“Kemarin hujannya lebat sekali. Banjirnya besar. Tergerus erosi, akhirnya jembatannya runtuh,” kata Kepala Dusun Semampir, Wahno saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu (18/2/2026).
Peristiwa terjadi sekitar pukul 15.30. Saat detik-detik sebelum ambrol, dua remaja sedang melintas di atas jembatan.
Struktur yang sudah rapuh tak mampu menahan beban dan tekanan arus.
Keduanya terjatuh ke sungai bersama dengan sepeda motornya.
Dua warga lain yang juga melihat berusaha menolong sebelum akhirnya ikut terseret longsoran.
Camat Kalikajar, Aldhiana Kusumawat, memastikan seluruh korban berhasil diselamatkan.
Namun, insiden itu tetap meninggalkan luka. Kendaraan yang terjatuh bisa diselamatkan.
“Sesaat sebelum jembatan roboh, terdapat dua warga yang sedang melintas dan dua warga lainnya yang berupaya memberikan pertolongan ikut terseret arus sungai. Namun seluruh korban beserta kendaraannya berhasil diselamatkan,” ujar Aldhiana.
Dua warga yang melintas masing-masing berinisial A, 17, dan F, 18. A mengalami retak tulang, sementara F luka ringan.
Adapun dua penolong, H, 26, dan W, 36, juga mengalami luka ringan. Seluruhnya merupakan warga Dusun Semampir.
Ambrolnya jembatan membuat warga memutar tiga kilometer untuk mencapai dusun tetangga maupun akses ke Desa Lamuk.
Pelajar, pekerja, hingga distribusi hasil pertanian, terganggu karena akses yang memudahkan masyarakat beraktivitas tak bisa dilalui.
Ironisnya, ini bukan kejadian pertama di titik yang sama. Longsor serupa terjadi pada Mei 2025.
Saat itu, lokasi telah disurvei BPBD dan DPUPR, kemudian ditangani secara darurat melalui APBDes karena status jembatan merupakan aset desa.
“Perlu disampaikan bahwa bencana ini merupakan kejadian yang kedua di lokasi yang sama,” kata Aldhiana.
Sekretaris Komisi C DPRD Wonosobo, Wisnu Ibet Pradana, menilai kondisi jembatan sebelum kejadian memang sudah mengkhawatirkan.
Struktur disebut condong ke sisi barat dan praktis tinggal menunggu waktu untuk roboh.
“Sebenarnya sudah parah. Jembatan ini sudah tidak bisa digunakan dan sudah condong ke sebelah barat. Jadi, tinggal menunggu waktu saja jembatan ini ambrol,” ujarnya.
Ibet mendorong penanganan tidak lagi bersifat tambal sulam.
Meski berstatus aset desa, menurut dia, pemerintah daerah memiliki ruang intervensi, termasuk melalui skema anggaran tak terduga.
“Harusnya bisa. Anggaran TT itu ada. Tinggal keseriusan dan kemauan pemerintah daerah saja untuk menangani jembatan ini. Uangnya ada, kok,” tandas Ibet. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo