RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Upaya Pemerintah Kabupaten Wonosobo menekan produksi sampah mulai diuji melalui pengoperasian hanggar pengolahan di TPA Wonorejo.
Namun, kapasitas yang berjalan saat ini masih sangat terbatas. Hanya lima ton sampah per hari, masih jauh dari timbulan sampah harian Wonosobo.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonosobo, Endang Lisdiyaningsih, mengakui hanggar tersebut baru difungsikan sebagai tahap awal uji coba. Skala kecil sengaja diterapkan untuk menguji sistem kerja, teknologi, hingga kesiapan tenaga lapangan.
“Ini hanggar TPA, jadi kapasitasnya hanya lima ton per hari. Masih tahap uji coba,” kata Endang, Rabu (7/1/2026) lalu.
Hanggar itu disebut sebagai “laboratorium” pengolahan sampah sebelum masuk ke skala besar. Pemkab menargetkan pengembangan kapasitas hingga 50 bahkan 100 ton per hari.
Angka tersebut dinilai lebih relevan untuk menjawab persoalan sampah Wonosobo yang terus menumpuk.
Endang menyatakan, dari sisi infrastruktur dan sumber daya manusia, daerah sebenarnya sudah siap jika pengembangan dilakukan. Bangunan, mesin, hingga tenaga kebersihan diklaim mencukupi.
“Kalau untuk kapasitas 50 sampai 100 ton, bangunan dan peralatannya siap. SDM di DLH juga siap,” tegasnya.
Dalam operasionalnya, sampah dari 109 desa diproses menggunakan konveyor dan mesin hibrid untuk memisahkan organik dan anorganik.
Sampah basah diarahkan ke pengolahan maggot, sementara material bernilai ekonomi dikumpulkan untuk didaur ulang.
Saat ini hanggar dioperasikan 12 pekerja dengan jam kerja terbatas, pukul 07.00 hingga 12.00. Kondisi ini kembali menegaskan bahwa sistem tersebut belum mampu menjadi solusi utama pengolahan sampah daerah.
Pemkab juga mulai menyiapkan pengembangan refuse derived fuel (RDF) melalui kolaborasi dengan TPS3R yang ditargetkan berjalan pada 2026.
Namun, efektivitasnya masih akan bergantung pada keberanian daerah mempercepat peningkatan kapasitas dan konsistensi pengelolaan. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo