RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Kukuh Hariyawan, seorang perancang busana dari Wonosobo, membuktikan bahwa warisan budaya lokal dapat meraih pengakuan internasional.
Lewat Kebaya Adhikari, karya unggulannya , telah menembus pasar Malaysia, Perancis dan Amerika Serikat.
Tanpa latar belakang pendidikan formal dalam bidang mode, Kukuh mengasah bakatnya secara otodidak. Proses belajar yang ditempuhnya bukan dari bangku sekolah, melainkan dari pengalamannya bekerja di bawah naungan beberapa desainer.
“Saya adalah seorang desainer yang tidak bisa menggambar, karena nggak sekolah fashion. Jadi, saya membuat desain dari grappling, di patung dibentuk langsung,” ungkapnya.
Kisahnya dimulai pada 2009, ketika ia memutuskan untuk menciptakan kebaya dengan namanya sendiri.
Lima tahun setelah memulai perjalanannya, pada 2014, Kukuh resmi meluncurkan merek Kebaya Adhikari dan memperoleh Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI).
Meski namanya telah dikenal luas, Kukuh tetap memilih Wonosobo sebagai basis produksinya.
Di rumahnya di Kecamatan Selomerto, ia memberdayakan masyarakat sekitar, khususnya para ibu rumah tangga yang berusia di atas 40 tahun dan tidak memiliki ijazah formal.
Dengan melibatkan 12 ibu-ibu dalam produksi kebayanya, Kukuh tidak hanya menciptakan lapangan kerja tetapi juga memberdayakan komunitas lokal.
Karya Kukuh tidak hanya diminati selebriti tanah air seperti Iis Dahlia, Trio Macan, dan Happy Asmara, tetapi juga menjadi incaran para pecinta kebaya dengan harga mencapai puluhan juta rupiah.
Pada 10 Agustus 2024, Kukuh akan menyelenggarakan fashion show tunggal di Jogjakarta, menampilkan 57 koleksi kebaya modern kasualnya.
Acara ini akan diperkaya dengan elemen budaya Wonosobo, seperti kesenian Lengger, yang menambah nilai budaya dalam setiap helai karyanya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo