Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Desa Buntu Kejajar Miniaturnya Indonesia: Satu Keluarga Berbeda Agama Tetap Rukun dan Harmonis

Sigit Rahmanto • Rabu, 20 Desember 2023 | 19:02 WIB

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo dikenal sebagai miniaturnya Indonesia dalam wujud kebhinnekaan. Anggapan itu untuk menggambarkan betapa harmonisnya aliran kepercayaan yang dianut warganya.

Sekilas tidak ada perbedaan yang mencolok dari desa ini dibanding desa-desa lain di Wonosobo. Secara geografis, Desa Buntu masuk sebagai salah satu wilayah Kecamatan Kejajar. 

Desa ini berada tepat di kaki Gunung Sindoro dengan ketinggian 1300 mdpl. Dengan ketinggian itu menempatkan Desa Buntu menjadi salah satu desa yang cukup dingin untuk ditinggali.

Sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut mengandalkan sektor pertanian. Kebanyakan dari masyarakat di kampung itu bekerja sebagai menjadi petani sayur. Sektor pertanian masih menjadi penopang utama bagi kebanyakan warga di Wonosobo.

Yang membedakan masyarakat Buntu dengan wilayah lain adalah cara mereka merawat keberagaman. Banyaknya aliran agama yang hidup, tumbuh, dan terus dirawat, menjadi bukti nyata betapa harmonisnya masyarakat di kampung itu.

Dengan penduduk 600 keluarga, ada tiga agama resmi yang dianut oleh warga di sana. Islam masih menjadi agama mayoritas disusul Nasrani dan Buddha yang semuanya bisa hidup berdampingan tanpa pernah sekalipun berkonflik atas nama agama.

Masing-masing individu berhak memeluk agama yang diyakininya tanpa harus khawatir. Semua telah dijamin dan dirangkul sebagaimana mestinya. "Itu tidak dibuat-buat. Semuanya alami dan terjadi apa adanya sejak dulu," terang tokoh Buddha Tuwarno, 62, ditemui di rumahnya.

Baginya, persoalan agama selesai pada individu masing-masing. Mana yang paling baik menurut setiap warga, keputusan itu harus dihormati, tanpa kecuali. "Karena kita punya prinsip: bagiku agamaku, bagimu agamamu," begitulah ia menggambarkan betapa cairnya sikap warga di desanya.

Nilai baik itu benar-benar bisa tertanam bagi warga setempat. Sehingga dalam kegiatan sosial yang melibatkan warga bisa saling membantu, bergotong-royong dan melebur menjadi masyarakat yang harmonis.

Bahkan keharmonisan itu bukan hanya tampak dalam suasana di lingkungan desa. Tapi masuk dalam wilayah paling privat, yakni keluarga.

Tuwarno sendiri tak pernah melarang anggota keluarganya memiliki keyakinan berbeda dengannya. Ia benar-benar membebaskan keyakinan masing-masing.

 "Di rumah ini ada lima orang. Ibu mertua saya beragama Katolik, saya beragama Buddha, istri saya mualaf (Islam) dan dua anak saya itu Islam," katanya.

Tuwarno tak sendirian. Ia dan beberapa keluarga di Desa Buntu juga memiliki kemiripan. Dalam satu keluarga memiliki beberapa keyakinan yang berbeda-beda.

"Justru di situlah nilai positifnya. Karena kita berbeda, akhirnya sama-sama untuk saling mengingatkan," ujarnya.

Menurutnya, di situlah makna Desa Buntu adalah miniaturnya Indonesia dalam wujud kebhinnekaan. Meskipun memiliki keyakinan yang berbeda-beda, tetap bisa hidup rukun dan terus berdampingan.

Bahkan pujian itu datang langsung dari Staf Khusus Menteri Agama RI (Stafsus Menag) Bidang Komunikasi Publik dan Teknologi Sistem Informasi Wibowo Prasetyo saat berkunjung ke Wonosobo.

"Mereka dengan rukun hidup dan beribadah secara berdampingan. Ini menjadi sebuah cerminan Bhinneka Tunggal Ika yang nyata bisa ditemui. Modernisasi beragama menjadi salah satu bagian membangun umat beragama dengan rukun," ujarnya saat mengunjungi kelenteng Hok Hoo Bio baru-baru ini. (git/lis)

Pintu gerbang Desa Buntu Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Pintu gerbang Desa Buntu Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#berbeda agama #miniatur Indonesia #Tokoh Buddha #desa buntu kejajar