Petani Tembakau Khawatir Cukai Naik, Harga Tembakau Tertekan

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 16:50 WIB
Aktivitas pembelian tembakau yang dilakukan para grader di salah satu gudang di Temanggung. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)
Aktivitas pembelian tembakau yang dilakukan para grader di salah satu gudang di Temanggung. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung -Petani tembakau Temanggung masih menghadapi ketidakpastian kebijakan cukai setelah pergantian Menteri Keuangan. 

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mengingatkan, kenaikan cukai rokok pada tahun depan, berpotensi ikut memengaruhi pembelian tembakau petani pada musim panen berikutnya.

Ketua Umum APTI Agus Parmuji mengatakan, kebijakan cukai memiliki kaitan erat dengan industri hasil tembakau hingga ke tingkat petani.

Karena itu, pemerintah diminta mempertimbangkan kondisi daerah sentra tembakau seperti Temanggung. Itu sebelum menetapkan kebijakan baru.

"Kami sangat berharap Pak Menteri membuat kebijakan yang melindungi, bagaimana menjaga kedaulatan pertanian tembakau dari hulu sampai ke hilir, dari industrinya hingga sampai ke petani," kata Parmuji, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Tembakau Temanggung Dihargai Rp107 Ribu per Kg, Kualitas Jadi Penentu

Kekhawatiran terbesar petani, lanjut Parmuji,  jika cukai kembali dinaikkan secara signifikan.

Kebijakan itu dikhawatirkan berdampak pada penjualan rokok. Lalu berimbas pada kebutuhan bahan baku industri.

"Ketika cukai itu dinaikkan maka yang terjadi adalah kiamat ekonomi di pertanian tembakau, di masa yang akan datang," tegasnya.

Parmuji menilai, dampaknya tidak hanya dirasakan industri rokok. Petani di daerah sentra produksi seperti Temanggung juga berpotensi terkena imbas. Itu melalui tata niaga dan harga tembakau.

Maka, ia meminta pemerintah tidak semata-mata melihat cukai dari sisi penerimaan negara.

Menurutnya, kenaikan cukai perlu memperhitungkan daya beli masyarakat. Termasuk perputaran ekonomi yang berkaitan dengan industri hasil tembakau.

"Jangan hanya berpikir bagaimana tentang pendapatan negara. Yang kami takutkan nanti Pak Menteri yang baru ini hanya mengejar tentang pendapatan negara dari cukai," katanya.

Selain cukai, APTI juga meminta pemerintah mengendalikan impor tembakau.

Parmuji menilai, masuknya tembakau impor dengan harga lebih murah dapat menambah tekanan terhadap hasil panen petani lokal.

"Pak Menteri harus berani mengatur laju impor tembakau yang masuk ke Indonesia," tegasnya.

Pengaturan impor penting untuk menjaga tata niaga tembakau nasional. Itu sekaligus memberikan ruang bagi hasil produksi petani dalam negeri.

Di Temanggung sendiri, aktivitas pembelian tembakau masih berlangsung.

Salah satu pabrikan, PT Djarum, hingga pertengahan September telah menyerap lebih dari 1.500 ton tembakau Temanggung dari target awal 5.000 ton. 

Jumlah tersebut masih berpeluang bertambah menyesuaikan kualitas dan kondisi tembakau di lapangan.

Sementara itu, Bupati Temanggung Agus Setyawan turut berharap, pergantian Menteri Keuangan tidak diikuti perubahan regulasi cukai, yang dapat menambah tekanan terhadap daerah sentra tembakau.

"Harapan saya, dengan pergantian Menteri Keuangan yang baru semoga tidak ada perubahan regulasi khususnya di urusan cukai," kata Agus.

Ia mengatakan, perubahan cukai dapat berpengaruh terhadap harga rokok di pasaran.

Lalu akhirnya turut berdampak terhadap ekosistem pertembakauan di daerah.

 "Kalau sudah masuk ke tahapan itu ini juga membuat tambah pusing kita lagi di lapangan. Khususnya kami yang ada di daerah sentra penghasil tembakau," ujarnya. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
kebijakan cukai Agus Setyawan APTI harga tembakau