RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Penanganan jembatan putus akibat longsor di Dusun Seseh, Desa Ngadisepi, Kecamatan Gemawang, belum dapat dilanjutkan ke tahap pembangunan.
Pasalnya, pemerintah daerah masih menunggu hasil kajian dari Badan Geologi sebelum menyusun ulang detail engineering design (DED) jembatan tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Temanggung Totok Nursetyanto menjelaskan, desain awal jembatan yang sebelumnya telah disiapkan harus ditinjau ulang. Lantaran terjadi longsor susulan pada awal tahun 2026.
Kondisi tersebut mengubah karakteristik lokasi. Sehingga memengaruhi rencana teknis pembangunan.
"Awalnya sudah diverifikasi (DED), tetapi setelah terjadi longsor susulan pada Januari kemarin, kondisinya berubah. Karena itu kami membuat kajian lagi dan sekarang sudah diajukan ke Badan Geologi. Kami tinggal menunggu rekomendasinya," kata Totok saat diwawancara, Senin (20/7/2026).
Hasil kajian geologi, lanjut Totok, akan menjadi dasar penyusunan DED baru. Setelah desain direvisi, dokumen tersebut akan dikonsultasikan kembali dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN). Itu sebelum diajukan untuk proses penanganan lebih lanjut.
Dikatakan, perubahan kondisi lereng di Kali Seseh, membuat desain lama tidak lagi relevan. Volume longsoran yang bertambah, mengharuskan penyesuaian konstruksi agar pembangunan jembatan nantinya aman dan sesuai rekomendasi teknis.
"Kalau hasil kajian sudah turun, baru DED kami revisi. Setelah itu dikonsultasikan lagi ke BBPJN Semarang," ujarnya.
Apabila tidak terjadi longsor susulan, proses penanganan kemungkinan sudah dapat berjalan lebih cepat.
Namun, perubahan kondisi lapangan membuat seluruh perencanaan harus disesuaikan kembali.
"Karena ada longsor susulan. Segera mungkin akan kami laksanakan pembaharuan DED, setelah hasil kajian keluar," tambah Totok.
Terpisah, Bupati Temanggung Agus Setyawan, telah menyampaikan penanganan peristiwa longsor kepada kepala BNPB.
Ia berharap, proses kajian dan penanganan jembatan dapat segera diselesaikan. Lantaran keberadaan akses tersebut sangat vital bagi masyarakat.
Menurut Agus, putusnya jembatan tidak hanya menghambat mobilitas warga. Tetapi juga berdampak pada aktivitas pendidikan hingga perekonomian masyarakat di wilayah Gemawang.
"Kalau nanti hujan lebat dan akses kembali terputus, aktivitas masyarakat akan sangat terganggu. Anak-anak sekolah kemarin bahkan harus memutar hingga sekitar 14 kilometer, dibantu BPBD dan aparat kepolisian untuk mobilisasinya," kata Agus.
Agus berharap, penanganan jembatan dapat segera direalisasikan. Sehingga, akses masyarakat di tiga desa di Kecamatan Gemawang kembali normal dan tidak lagi terkendala setiap kali terjadi hujan deras.
"Saat ini memang sudah ada jalan darurat. Tapi pembangunan permanen juga perlu dilakukan," tandasnya. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo