
Oleh: Iskandar
Jurnalis Jawa Pos Radar Semarang
RADARMAGELANG.ID--Lagi-lagi, publik kembali dikejutkan oleh pemberitaan mengenai penyitaan uang dalam jumlah besar dan puluhan kilogram emas yang dikaitkan dengan perkara yang sedang ditangani aparat penegak hukum.
Sebelumnya, KPK juga menyita sejumlah mobil mewah milik seorang wakil menteri yang menjadi tersangka dugaan pemerasan. Teranyar, KPK menangkap salah satu bupati di Jawa Tengah karena kasus korupsi.
Tiada hari tanpa pemberitaan korupsi. Dan, lagi-lagi, pelakunya adalah pejabat. Orang yang menikmati fasilitas yang diberikan oleh negara; gaji, tunjangan jabatan/dinas, tunjangan keluarga, rumah dinas, mobil dinas, dan sebagainya.
Terlepas dari bagaimana proses hukum mereka nantinya berjalan dan siapa pun yang pada akhirnya dinyatakan bertanggung jawab, satu hal yang mengusik akal sehat saya adalah: mengapa mereka korupsi? Apakah gaji dan segala tunjangan yang mereka terima masih kurang? Mengapa mereka terus menumpuk harta dalam jumlah yang bahkan mustahil ia nikmati seumur hidupnya?
Pertanyaan ini, bagi saya, jauh lebih penting diajukan, daripada sekadar menghitung berapa kilogram emas atau berapa miliar atau triliun rupiah uang tunai yang menjadi barang bukti kasus korupsi.
Dalam konteks ini, jelas bahwa korupsi bukan hanya persoalan pelanggaran hukum. Ia adalah cerminan bagaimana keserakahan dapat menguasai akal sehat manusia. Saya jadi ingat buku To Have or To Be (1975) yang ditulis oleh Erich Fromm, seorang psikolog sosial, psikoanalis, dan filsuf kelahiran Jerman.
Dalam buku itu, Fromm mengajukan pertanyaan sederhana, namun sangat mendasar. Yakni, apakah manusia hidup untuk memiliki? Atau manusia hidup untuk menjadi?
Menurut pendapat Fromm, hampir seluruh konflik moral dalam masyarakat modern bermula dari pilihan antara dua orientasi hidup tersebut. Manusia yang memiliki orientasi "To Have", misalnya, cenderung mengukur nilai dirinya dari apa yang dimiliki. Ukuran keberhasilan bukan lagi karakter. Tapi akumulasi.
Yang dihitung tipe manusia jenis ini adalah: jumlah uang, rumah, mobil, jabatan, kekuasaan, emas, investasi, dan segala sesuatu yang dapat dimiliki.



