RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Di tengah maraknya jajanan modern, kuliner tradisional, pipes kopyor justru menjadi salah satu pilihan favorit masyarakat saat Ramadan.
Cita rasa khas yang memadukan manis, gurih, dan aroma pandan, membuat kudapan ini terus dicari warga saat waktu berbuka puasa.
Salah satu perajin pipes kopyor yang masih setia mempertahankan resep tradisional adalah Khoiriyah, 31, warga Kelurahan Kertosari, Kecamatan Temanggung.
Usaha yang ia jalankan merupakan warisan keluarga yang telah dirintis mertuanya, Sri Murniati, 72 tahun. Usaha ini sudah berjalan sejak sekitar 21 tahun lalu.
Selama bulan Ramadan, dapur produksi pipes kopyor hampir tak pernah sepi. Sejak pagi hari, proses pembuatan sudah dimulai untuk memenuhi permintaan pelanggan yang terus berdatangan menjelang waktu berbuka.
“Alhamdulillah ada peningkatan sekitar 30 persen dibanding Ramadan tahun lalu. Kalau biasanya hanya sekitar 250 bungkus per hari, saat Ramadan bisa sampai 500 bungkus,” ujar Khoiriyah kepada wartawan, Kamis (5/3/2026).
Khoiriyah mengatakan, selama bulan puasa proses produksi dimulai lebih awal. Dimulai sekitar pukul 07.00.
Sementara penjualan biasanya dibuka mulai pukul 13.00 hingga sekitar pukul 17.00 atau menjelang waktu berbuka puasa. "Setiap jualan juga selalu ludes," ujarnya.
Pipes kopyor merupakan kudapan tradisional yang dibuat dari campuran beberapa bahan sederhana.
Seperti pisang tanduk atau kepok, kelapa muda yang diiris tipis, sagu panjang, santan, serta potongan roti.
Seluruh bahan tersebut dicampur dalam plastik, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang sebelum dikukus selama kurang lebih 15 menit.
Kesederhanaan proses pembuatan, justru menjadi kunci cita rasa khas makanan ini. Santan yang meresap ke dalam roti dan sagu menghasilkan tekstur lembut yang berpadu dengan manis alami pisang serta segarnya kelapa muda.
Aroma daun pandan yang harum semakin terasa ketika bungkus daun pisang dibuka.
Untuk bahan pisang, Khoiriyah biasanya menggunakan beberapa jenis seperti pisang kepok, pisang tanduk, dan pisang raja goreng.
Selain itu, menyediakan beberapa variasi rasa seperti pandan, pisang, degan, hingga sagu. "Kalau jenis pisang itu khusus. Gak boleh sembarangan," katanya.
Meski menjadi jajanan favorit saat Ramadan, harga pipes kopyor tetap dijaga agar terjangkau bagi masyarakat. Saat ini satu bungkus dijual seharga Rp8.000.
Harga tersebut tentu jauh berbeda dibandingkan saat awal usaha keluarga ini dirintis pada 2005. Kala itu, satu bungkus pipes kopyor hanya dijual seharga Rp1.500.
Tak hanya warga Temanggung, pembeli pipes kopyor juga datang dari berbagai daerah seperti Purwokerto, Semarang, hingga Jogjakarta.
Banyak di antara mereka sengaja datang karena ingin menikmati rasa autentik jajanan tradisional tersebut.
Salah satu pembeli, Budi Priyono, mengaku hampir setiap Ramadan menyempatkan diri membeli pipes kopyor. Menurutnya, makanan ini mengingatkannya pada masa kecil.
“Ini makanan jadul. Kadang kita kangen jajanan waktu kecil dulu. Rasanya khas dan cocok untuk buka puasa karena manis, gurih, dan harganya juga murah,” katanya.
Baginya, menikmati pipes kopyor bukan sekadar mengisi perut setelah seharian berpuasa, tetapi juga menghadirkan nostalgia masa lalu yang sederhana namun penuh kenangan. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo