Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Seni, Pekerja Migran Asal Temanggung yang Disiksa Majikannya hingga Miliki Luka Permanen Bertahan Hidup hanya dengan Nasi Putih

Devi Khofifatur Rizqi • Selasa, 25 November 2025 | 23:56 WIB
Lilin, keponakan Seni menceritakan perlakuan yang diterima bibinya saat bekerja di Malaysia.
Lilin, keponakan Seni menceritakan perlakuan yang diterima bibinya saat bekerja di Malaysia.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Kisah kelam yang dialami Seni, pekerja migran perempuan asal Kabupaten Temanggung yang selama 21 tahun bekerja di Malaysia tanpa gaji, tanpa kebebasan, dan tanpa kepastian hidup, menjadi keprihatinan publik.

Di balik kondisinya yang kini mulai membaik, terungkap fakta bahwa Seni mengalami penyiksaan bertahun-tahun hingga menimbulkan luka permanen. Bahkan, Seni hanya makan nasi putih saja untuk bertahan hidup.

Lilin, keponakan Seni, mengungkapkan, kondisi bibinya saat ini perlahan membaik setelah mendapatkan penanganan dari KBRI.

“Keadaannya sudah membaik. Berat badannya naik, kondisi mental dan fisik juga semakin baik,” ujar Lilin Senin (24/11/2025) malam.

Meski demikian, proses pemulihan Seni masih panjang. Luka-luka yang dialami tidak sekadar memar, melainkan termasuk luka permanen pada bagian mulut akibat kekerasan berkepanjangan yang dialaminya.

Lilin, keponakan Seni, anak dari Iswandi Seni, membeberkan, salah satu fakta paling memilukan adalah pola makan yang diberikan oleh majikan yang menyekapnya.

Menurut cerita dari pihak pendamping dan informasi yang diterima keluarga, Seni hanya diberi makan nasi putih setiap hari.

“Kalau makan ya cuma nasi putih. Waktu kejadian itu beliau ketahuan hendak mengambil kecap dari kulkas, lalu mendapat kekerasan,” jelas Lilin.

Selama 20 tahun, Seni hidup dalam kondisi tidak layak, penuh tekanan, dan tanpa akses komunikasi dengan keluarga. Kekerasan fisik yang ia terima membuat tubuhnya penuh memar, meski tidak ditemukan patah tulang. Namun beberapa luka permanen ditemukan, termasuk di area wajah.

Setelah berhasil diselamatkan, Seni saat ini berada di bawah perlindungan penuh KBRI Malaysia. Semua kebutuhan dasarnya dipenuhi, termasuk pakaian, makanan, serta uang saku.

“Untuk pakaian, makanan, dan kebutuhan lain sudah dikasih oleh Pak Dubes. Termasuk biaya untuk baju dan jajan,” ujar Lilin.

KBRI juga memastikan pendampingan hukum berjalan maksimal. Seni telah mendapatkan pengacara untuk menghadapi proses hukum terhadap majikannya.

“Sudah ditunjuk lawyer. Akhir bulan ini akan ada pencatatan persidangan selanjutnya,” tambah Lilin. 

Lilin mengatakan, kondisi luka pada bagian mulut membuat Seni harus mengenakan masker saat diwawancarai atau melakukan komunikasi jarak jauh dengan keluarga.

Pihak KBRI bahkan menyarankan operasi sebelum ia dipulangkan ke Indonesia. Itu supaya kondisi kesehatannya lebih stabil dan keluarga tidak terlalu kaget saat bertemu setelah 21 tahun berpisah.

Lilin menyebut, bibinya sempat melakukan video call singkat dengan keluarga. Namun, saat itu kondisinya masih lemah dan kebingungan.

“Belum banyak kata-kata yang bisa disampaikan. Masih bingung dan belum begitu sehat,” ungkap Lilin.

Kendati begitu, pihak keluarga Seni telah meminta jadwal tambahan untuk dapat berkomunikasi lebih intens.

Keluarga di Temanggung hanya berharap proses hukum dan pemulangan segera tuntas, agar Seni bisa kembali ke rumah setelah puluhan tahun mengalami penderitaan.

Seni tidak hanya kehilangan kebebasan dan masa hidupnya, tetapi juga dipaksa hidup dengan makanan yang tidak layak dan mengalami kekerasan fisik yang meninggalkan bekas permanen.

"Semoga proses-prosesnya lancar biar segera pulang ke rumah," harap Lilin. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#pekerja migaran indonesia #Bupati Temanggung Agus Setyawan #disiksa #seni #luka