Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

MTCC Unimma Dorong Lahirnya Petani Muda Unggul

Devi Khofifatur Rizqi • Senin, 24 November 2025 | 01:36 WIB
Kegiatan Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah Seri 7 yang berada di wilayah Kranggan, Temanggung.
Kegiatan Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah Seri 7 yang berada di wilayah Kranggan, Temanggung.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung  -  Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) mengadakan Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah seri 7.

Program yang telah berjalan sejak 2021 ini menghadirkan 40 petani milenial dari Desa Pagergunung Kecamatan Pringsurat, serta Desa Purwosari dan Desa Kramat Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung.

Koordinator Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah, Rochiyati Murni, mengatakan, Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah hadir untuk menjawab dua persoalan besar. Di antaranya menurunnya kesejahteraan petani tembakau, serta semakin sulitnya regenerasi petani muda.

“Banyak anak muda yang kehilangan minat terhadap sektor pertanian karena dianggap kurang modern dan tidak menjanjikan. Padahal, era digital justru memberikan peluang besar bagi pertanian modern,” ujarnya Sabtu (22/11/2025).

Rochiyati menjelaskan, model kurikulum sekolah tani disesuaikan dengan karakter dan persoalan tiap wilayah. Untuk daerah subur  seperti Magelang, peserta mendapat materi urban farming.

Sementara di Temanggung yang masih kuat dengan tanaman tembakau, materi difokuskan pada diversifikasi pertanian, digitalisasi pemasaran, dan penguatan komoditas non-tembakau.

Pemilihan Desa Purwosari, Kramat, dan Pagergunung bukan hanya karena potensi pertaniannya. Melainkan, ketiga desa itu telah menginisiasi lahirnya Peraturan Desa Kawasan Cerdas Merokok, sebuah upaya membangun masyarakat sehat yang sejalan dengan visi MTCC Unimma.

"Ini bagus, desa-desa itu sudah punya Perdes Kawasan Cerdas Rokok," jelasnya.

Dikatakan, peserta dipilih dari kelompok petani muda. Generasi ini dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap teknologi dan media digital sehingga mampu menjadi motor penggerak perubahan.

“Pemuda ini kami harapkan bisa membantu memecahkan masalah pertanian di desanya. Mereka bisa memanfaatkan media sosial, teknologi, dan digital marketing untuk meningkatkan daya saing pertanian,” katanya.

Sekolah Tani Mandiri selama ini telah menjangkau ratusan peserta secara offline maupun ribuan peserta secara online dari berbagai daerah di Indonesia.

Rohyati berharap kegiatan ini bisa menjadi bagian dari upaya membangun pertanian maju, mandiri, dan berkelanjutan.

Salah satu peserta, Muhammad Alfin dari Desa Pagergunung, mengaku kegiatan ini bermanfaat untuk membuka wawasan.

Terutama dalam penerapan teknologi ke bidang pertanian. Sehingga, hal tersebut bisa meringankan beban maupun biaya para petani.

"Saya tanam pepaya sama sayur. Pengennya dari sekolah ini ada hal baru yang bisa diterapkan di desa. Jadi biar kerja petani juga efektif dan efisien serta tidak dengan biaya yang membengkak," harapnya. (dev/lis)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#petani milenial #Unimma #MTCC