Kisah Naomi Daviola Setyani, Siswi SMKN 3 Semarang yang Sempat Hilang saat Mendaki Gunung Slamet Purbalingga
Haryanto• Kamis, 10 Oktober 2024 | 06:30 WIB
Naomi Daviola Setyani, warga Karangroto, Genuk, Kota Semarang ini sudah lega bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.
RADARMAGELANG.ID, Semarang- Naomi Daviola Setyani, warga Karangroto, Genuk, Kota Semarang ini sudah lega bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.
Siswi kelas XII SMK Negeri 3 Semarang ini sebelumnya merasa panik dan takut lantaran sempat tersesat saat pendakian di Gunung Slamet, Purbalingga.
Cewek yang akrab disapa Viola atau Naomi ini sempat tersesat selama 2 hari di atas Gunung tertinggi di Jawa Tengah ini.
Bahkan, untuk mengisi perut, cuma makan sepotong roti pagi dan siang.
Pendakian ke Gunung Slamet ini, baru kali pertama dilakukan.
Sebelumnya ia pernah mendaki Gunung Ungaran dan Gunung Andong pada pertengahan tahun 2024.
Dua aktifitas tersebut berjalan tanpa ada yang dikhawatirkan.
"Ke Gunung Slamet itu karena apa ya? Ya sebenernya karena aku ultah (ulang tahun) juga kan, jadi kayak mau mencoba hal-hal baru. Kalau untuk dibilang fomo, ya emang saya fomo, tapi saya bukan fomo yang kayak naik, naik turun gitu aja," ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya, Rabu (9/10/2024).
Diakuinya sebelum melakukan pendakian ke Gunung Slamet telah melakukan persiapan yang benar-benar matang.
Mulai persiapan fisik dengan berolah raga, hingga perbekalan makanan dan untuk menjaga badan dari hujan.
"Jadi sebelum naik, saya memang harus pastikan fisik kuat yang pertama, yang kedua bawaan saya tu harus sesuai sama medan yang saya lalui. Jadi, harus benar-benar matang, apalagi itu kan gunung tertinggi di Jawa Tengah," katanya.
Persiapan tersebut, Naomi rajin berolahraga mulai dari sekitaran rumah hingga ke lapangan GOR Tri Lomba Juang sejak dua minggu sebelum berangkat.
"Sejak H-14 saya udah lari, jogging muter-muter sini, gitu. Lari puter lapangan Tri Lomba Juang itu 10 putaran, terus naik turun tangga lima kali, lima kali," jelasnya.
Naomi membeberkan, berangkat ke Gunung Slamet pada Sabtu (5/10/2024) siang.
Sampai basecamp Gunung Slamet bertemu rombongan yang dikenal melalui media sosial TikTok. Jumlah rombongan tersebut sekitar 40 orang.
"Saya berangkat naik motor sendirian, dari rumah jam 14.00. Sampai Purbalingga sekitaran jam 21.00. Ketemu di Base Camp, istirahat sebentar persiapan, terus naik tektok jam 23.45," katanya.
Naoi menyebut, total biaya yang dikeluarkan mulai tiket hingga makan siang sebesar Rp 70 ribu, diserahkan ke ketua atau penanggungjawab.
Kemudian, puluhan orang tersebut terbagi menjadi tiga kelompok.
Naomi berada di kelompok tiga dengan jumlah keseluruhan tujuh orang.
Setelah itu, foto bersama di Pintu Rimba, dan melakukan perjalanan menyusuri jalan dan jalur sesuai menuju puncak.
Sampai Pos 9 Pelawangan, Minggu (6/10/2024) sekitar pukul 09.00-10.00.
"Kita dapetesunrise di track, dapet view Sindoro Sumbing. Habis itu kita naik ke puncak, sampai atas itu mungkin sekitaran jam 12.00-an siang, karena kita bener-bener banyak istirahatnya," sambungnya.
Dia mengatakan, dari tujuh orang kelompok tiga ini, tiga orang telah melanjutkan perjalanan naik dan turun terlebih dulu, karena jalannya memang cepat.
Tinggal empat orang, termasuk Naomi.
"Sampai di pertengahan kan sisa berempat nih. Saya, mas-mas rambut pirang, sama dua ini gandengan, maksudnya kayak sepaket. Yang turun duluan tuh mas-mas yang rambut pirang. Saya pikir, saya bisa nyusul mas-mas yang rambut pirang ini kan, tapi ternyata saya nggak kuat," katanya.
Lantas Naomi berhenti untuk istirahat duduk.
Sempat menengok ke belakang melihat dua orang cowok-cewek.
Awalnya tak merasa ada keanehan.
Namun ketika kembali menengok ke belakang, tak ada orang.
"Bener-bener sepi-pi. Bahkan yang sebelumnya depan saya itu masih ada orang, tiga orang udah gak ada sama sekali. Itu saya nggak ngelamun sama sekali. Itu jam 2 pagi. Itu saya mulai panik, saya teriak teriak minta tolong minta tolong," jelasnya.
Namun teriakan Naomi tak ada yang mendengar.
Hingga akhirnya, dia sendirian di tempat tersebut.
Rasa campur aduk kepanikan ini, Naomi sempat terpikirkan aktifitas ibadah di gereja.
"Itu kan hari minggu ya, saya harus dampingi anak-anak buat ke gereja. Mikir saya siapa yang ngajari mereka nanti, aku kepikirannya cuma di situ. Dan (mikir) aku harus sampai bawah, sampai bawah, sampai bawah, ke gereja besok, tanggung jawab," ujarnya.
Menurut pandangan Naomi, dalam posisi di tempat tersebut hanya terlihat hutan.
Pikirannya masih terus berkecamuk mencari jalan keluar.
Kemudian, ia berinisiatif jalan menuju turunan yang dilihatnya masih berupa hutan dan hanya menemukan semak-semak.
"Itu gak nemu apa-apa, cuma nemu semak-semak tembusnya itu pager.Pager tinggi saya gak tahu itu tembusnya kemana. Akhirnya saya milih muter balik naik ke atas. Naik ke atas, tapi saya nggak bisa ke atas, karena semakin saya naik semakin tracknya juga naik. Jadi kita tuh kayak ngejar tapi gak bisa kita kejar," jelasnya.
Lantaran merasa capek, ia memilih berhenti istirahat.
Berkeinginan untuk tidur bersandar, namun tidak bisa lantaran masih berkecamuk dengan rasa takutnya.
Di waktu ini, ada keanehan-keanehan yang Naomi enggan untuk menceritakan.
Terlihat mata Naomi sempat berkaca-kaca dan merangkul ibunya yang berada di sebelahnya.
"Terus akhirnya turun, istirahat tapi nggak bisa benar-benar tidur. Cuma nyandar di batu pakai tongkat tracking pole. Di situ saya lihat sunrise, tapi nggak bisa foto, karena HP-nya mati dari Minggu, powerbank-nya nggak tahu di mana juga," bebernya.
Tiba-tiba, entah dari mana seekor burung muncul di hadapannya.
Menurutnya, seolah burung tersebut mengarahkannya ke arah yang benar.
Sehingga membuatnya berinisiatif mengikuti burung itu.
"Saya lihat ke depan ada burung, saya ngerasadiarahin ke bawah, saya ikutin pas dia turun aku turun. Pas di naik aku naik. Tapi jalan yang dipilih jelek, jadi saya sampai luka-luka," katanya.
Lantaran masih tak menemukan jalan, Naomi memilih untuk kembali naik.
Selama tersesat itu, ia hanya mengandalkan roti sobek yang tinggal 6 potong dan air minum yang ia isi dari mata air sungai di sekitar menggunakan botol 1,5 liter.
"Makannya harus benar-benar diirit-irit. Sepotong buat sehari karena nggak tahu bakal sampai kapan. Bahkan sampai sekarang rotinya masih," jelasnya.
Pada hari berikutnya, Senin (7/10/2024), Naomi masih terus berputar otak untuk mencari jalan keluar.
Namun juga belum berhasil dan masih bertahan di tempat yang sama.
"Kemarin ada yang bilang saya ambil jalur kanan, padahal nggak, saya ambil jalur tengah. Bingung harus ke mana, lewat mana, benar-benar sendiri di sana," katanya.
Rupanya, cuaca kurang bersahabat, dan diguyur hujan deras dan badai pukul 16.00.
Ia memilih berhenti dan beristirahat dengan bersandar pada pohon.
Saat terbangun, sudah sekitar pukul 20.00.
"Itu masih badai tapi udah gak hujan, bener-bener kabutnya tebel. Saya menengok ke belakang, ada senter, tapi saya gak tahu itu orang atau gak, tapi saya juga gak berani ngapa-ngapain, karena itu kan posisinya gelap. Habis itu milih tidur lagi," terangnya.
Kemudian, pagi harinya Selasa (8/10)2024) pukul 06.00, ia juga melihat sunrise.
Sembari istirahat, juga kembali makan roti dan minum air.
Tiba-tiba kembali melihat tiga burung yang tidak diketahui jenisnya.
"Burungnya ini ngarahin ke jalan yang akar-akar semua, akar kalau diinjak kan patah, saya jatuh ke jurang. Akhirnya saya milih berhenti," jelasnya.
Selama malam itu, yang ada dalam pikiran Naomi adalah keluarganya, termasuk adik dan neneknya yang merawat saya dari kecil.
Bahkan, juga terus berpikiran positif bisa kembali ke rumah bertemu keluarga.
"Malam itu pokoknya harus ketemu nggak boleh hilang. Doa sama Tuhan, pokoknya semua pikiran tentang kelurga. Nggak ada yang ngalahin mereka," terangnya.
Kemudian, kekhawatiran itu mulai hilang setelah ia mendengar suara orang laki-laki yang memanggil namanya sekitar pukul 09.00.
Naomi juga yakin, suara tersebut manusia yang sedang mencarinya.
"Saya denger suara orang, abis itu, teriak-teriak, Mbak Vio Mbak Vio kamu di mana? Kamu d imana? Saya bilang, saya di sini pak, saya di sini, abis itu perasaan saya udah lega banget," katanya.
Rupanya orang tersebut bagian dari rombongan Tim SAR gabungan.
Pertemuan ini, Naomi juga langsung memeluk pria yang menjemputnya dengan tangisan.
Kemudian, Naomi dievakuasi turun dan sampai base camp bawah sekitar pukul 15.00.
"Bapaknya cerita nyari dari Senin, nyari dua jalur, via Bambangan ke Gunung Malang dan sebaliknya. Begitu ketemu orang tua seneng banget sampai nangis, peluk mamah," jelasnya
Naomi bersama sekitar 22 anggota Tim SAR itu lantas turun membuka jalan dari arah pendakian Gunung Malang sejak pukul 10.00 hingga pukul 16.00.
Begitu turun, ia langsung bertemu keluarga dan dirawat di RS terdekat.
Kemudian dibawa pulang menuju Kota Semarang dan sampai rumah sekitar pukul 23.00.
Ia juga sudah dalam kondisi sehat.
Kini Naomi bisa beraktivitas normal di rumahnya.
"Trauma sih nggak, tapi yang jelas nggak bakal dibolehin naik gunung lagi," ucapnya.
Ibunda Naomi, Dwi Ningsih Veronica, 40, mengatakan, momen ini menjadi pembelajaran bagi Naomi yang akrab disapa Vio di rumah.
Menurutnya, restu orang tua adalah yang terpenting.
Sebab, Naomi tak izin saat hendak mendaki Gunung Slamet.
"Buat pelajaran dia, kalau restu orang tua lebih penting dari yang lainnya," katanya.
Ibunya juga mengatakan sempat kaget dan khawatir setelah mendengar kabar anak sulungnya itu hilang.
Kemudian menyusul ke base camp Gunung Slamet bersama suaminya itu langsung lega setelah mendapat kabar Naomi ditemukan.
"Plong tenan, atiku sing kececer wis tak jukuti kabeh (hatiku yang tadinya tercecer sudah aku ambil semua). Mung tesih gelisah urung ketemu wonge (cuma masih gelisah belum bertemu orangnya). Lama itu, dari jam 10.00 sampai jam 16.00," ungkapnya.
"Begitu ketemu, sudah diminta Polresnya suruh daftar, langsung ditompo (diterima), sudah terbukti bisa selamat. Tim SAR juga nawani (menawarkan) apa mau jadi relawan," katanya sembari bercanda.
Sang ibu juga menegaskan, usai peristiwa menggemparkan ini, putrinya yang selama ini aktif di kegiatan Pramuka tak diizinkan mendaki gunung.
Semua kegiatan ia dukung, kecuali naik gunung.
"Habis ini nggak boleh naik (gunung) lagi. Sudah. Titik," tegasnya. (mha/mg29/mg31/mg32/aro)