RADARMAGELANG.ID – Beberapa minggu terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Indoneswia mengeluhkan suhu udara yang terasa sangat panas, bahkan menyengat pada siang hari.
Udara kering dan terik matahari seolah tak memberi jeda. Tak sedikit yang bertanya-tanya, apa sebenarnya penyebab terjadinya suhu ekstrem ini?
Menanggapi fenomena tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui laman instagram resminya menjelaskan bahwa cuaca panas yang terjadi saat ini dipicu oleh kombinasi fenomena alam tertentu.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menyebutkan bahwa penyebab utama panas ini adalah gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia.
Pada bulan Oktober, posisi semu matahari berada di selatan ekuator, tepat di atas wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan. Akibatnya, penyinaran matahari menjadi lebih intens dan langsung mengarah ke permukaan bumi tanpa hambatan dari awan.
Posisi matahari ini menyebabkan sejumlah wilayah di Indonesia menerima sinar matahari yang lebih intens dibandingkan wilayah lain sehingga suhu terasa lebih panas dari biasanya.
Selain gerak semu matahari, BMKG juga menyebut Monsun Australia sebagai faktor pemicu lain. Angin musiman ini bergerak dari Benua Australia menuju Indonesia dengan membawa massa udara kering dan hangat.
Akibatnya, pembentukan awan menjadi sangat minim, sehingga radiasi matahari dapat menembus langsung hingga ke permukaan bumi.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramadhani, menyebutkan bahwa suhu di atas 35°C kini meluas di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Suhu udara maksimum di beberapa wilayah Indonesia tercatat pada 14 oktober berkisar antara 34°C hingga 37°C dengan beberapa wilayah seperti Majalengka dan Boven Digoel mencapai 37,6°C.
Kondisi panas ini, menurut BMKG, diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober 2025, bahkan bisa berlanjut ke awal November.
Meskipun panas dominan, BMKG juga mengingatkan bahwa potensi hujan lokal masih bisa terjadi, terutama pada sore hingga malam hari.
Fenomena ini muncul akibat aktivitas konvektif, yakni naiknya massa udara panas yang bisa membentuk awan hujan secara tiba-tiba di wilayah tertentu.
BMKG juga memberikan imbauan penting kepada masyarakat agar tetap menjaga kesehatan, cukup minum air, dan menghindari paparan sinar matahari terlalu lama, khususnya pada siang hari. (mg10)
Editor : H. Arif Riyanto