RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Untuk memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal, Pemkab Magelang mulai memetakan sejumlah wilayah potensial di bidang peternakan.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyebut, karakter geografis wilayah menjadi dasar utama dalam menentukan arah pengembangan peternakan. Dari total wilayah yang ada, setidaknya delapan kecamatan berada di ketinggian yang dinilai ideal untuk budidaya sapi perah.
Menurutnya, wilayah dengan ketinggian di atas rata-rata 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) sangat cocok untuk pengembangan sapi perah. Ia menjelaskan, Pemkab Magelang juga merancang konsep klaster peternakan berdasarkan kondisi geografis, di mana wilayah dataran tinggi difokuskan untuk sapi perah, dataran menengah untuk unggas, dan dataran rendah untuk perikanan air tawar.
“Kalau misalnya di bawah (dataran rendah) itu potensinya perikanan, di (dataran) atas potensinya bisa sapi perah, nanti tengahnya bisa unggas,” kata Grengseng.
Ia mengatakan, pembagian ini bukan tanpa dasar, melainkan melalui pertimbangan geografis dan kajian akademik. Sejumlah kecamatan yang berada di ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) disebut menjadi titik potensial pengembangan sapi perah, seperti kawasan Ngablak, Pakis, hingga wilayah lereng Gunung Merapi dan Merbabu, termasuk Srumbung dan Kajoran.
Meski belum menetapkan target produksi secara spesifik, Grengseng menyebut, gambaran potensi produksi susu dari satu ekor sapi perah itu bisa mencapai angka 20 hingga 25 liter per hari dengan masa produksi sekitar 10 bulan per tahun. Meskipun, angka riilnya masih di bawah potensi tersebut.
Selain faktor geografis, ia menyebut, keberhasilan pengembangan sapi perah juga sangat bergantung pada manajemen pakan dan perawatan ternak. Pemkab berencana menyiapkan dukungan dari sisi ketersediaan hijauan hingga pakan konsentrat sebagai bagian dari ekosistem peternakan.
Grengseng berharap, nantinya program ini direncanakan berlangsung dalam jangka panjang dan diharapkan mampu meningkatkan populasi sapi perah, memperkuat ketahanan pangan, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto