Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Alarm EWS Berbunyi di Tengah Hujan Deras, Warga Tanjung Ngadiharjo Borobudur Dievakuasi

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Kamis, 15 Januari 2026 | 23:23 WIB
Warga Tanjung Desa Ngadiharjo Borobudur dievakuasi ke balkondes setempat setelah EWS berbunyi di tengah hujan, Kamis 15/1/2026).
Warga Tanjung Desa Ngadiharjo Borobudur dievakuasi ke balkondes setempat setelah EWS berbunyi di tengah hujan, Kamis 15/1/2026).

RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Hujan lebat yang mengguyur area Borobudur, Kabupaten Magelang Rabu (14/1/2026), membuat alarm early warning system (EWS) berbunyi nyaring pada Kamis (15/1/2026) dini hari.

Hal ini menyebabkan, 154 orang warga Dusun Tanjung, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur dievakuasi menuju tempat aman di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Ngadiharjo. 

Pantauan Radar Magelang di Balkondes Ngadiharjo, sejumlah warga ada yang sedang nyantai di gazebo bersama anak-anaknya, ada juga yang sedang santap sarapan pagi dengan menu MBG dari Badan Gizi Nasional. 

Kepala Dusun Tanjung, Sriwoto mengatakan, kemarin malam terjadi hujan deras disertai angin. Tengah malam, mendadak alarm EWS berbunyi. 

“Sekitar pukul 00.30 atau Kamis (15/1/2026) dini hari tadi, warga mulai dievakuasi. Hingga pukul 05.00,” jelas Sriwoto kepada Radar Magelang.

Ia menjelaskan, setelah longsor yang terjadi beberapa waktu lalu, Rabu (14/1/2026) terjadi susulan longsor sekitar pukul 22.00.

Di Dusun Tanjung, selain tebing di samping rumah yang longsor, sejumlah titik juga terjadi longsor. “Sehingga di Dusun ini keseluruhan ada sekitar 24 KK,” ujarnya. 

Salah satu warga Dusun Tanjung, Listiana, 36, mengatakan, pukul 03.00 dirinya bersama anak-anaknya dibantu tim gabungan dari Damkar Kabupaten Magelang dan BPBD serta relawan lainnya mengungsi di Balkondes Ngadiharjo.

“Karena rumah saya terkena longsor. Otomatis tetep takut juga saya. Soalnya itu di sebelah rumah tebing saya tinggi,” ujar ibu dua anak itu. 

‎Selain itu, kata Listiana, hujan pada Rabu itu benar-benar sangat lebat disertai angin juga.

“Karena khawatir, kita ikut evakuasi biar aman juga,” ungkapnya. 

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono mengatakan, di Desa Ngadiharjo salah satunya di Dusun Tanjung dipasang alat EWS yang berfungi untuk mengukur intensitas hujan. 

“Ketika hujan intensitas lebat, alat berbunyi. Ketika alat berbunyi berarti ada indikasi terjadinya tanah longsor di beberapa tempat,” kata Edi.

Ia menjelaskan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya adanya tanah longsor yang bisa mengancam warga.

“Sejumlah warga khususnya di Dusun Tanjung Desa Ngadiharjo dan sekitarnya kita geser ke Balkondes Ngadiharjo.

Dengan harapan mitigasi kita kesiapsiagaan dan pencegahan. Karena untuk bagian penyelamatan warga di sekitar Ngadiharjo tersebut,” jelasnya. 

‎Edi menyampaikan, hingga saat ini, jumlah warga yang di evakuasi ke Balkondes itu ada sekitar 151 jiwa.

Jika kondisi sudah aman dari hasil asesmen, warga bisa kembali ke rumahnya. 

“Sampai sekarang kita masih melakukan asesmen. Jika nanti masih ada susulan longsor otomatis warga akan kita evakuasi dulu hingga Jumat. Tapi jika kondisi dan cuaca bersahabat, otomatis akan kita antarkan pulang kembali,” jelasnya lebih lanjut. 

Edi mengatakan, longsor yang terjadi di Kabupaten Magelang pada Kamis (15/1/2026) dini hari terjadi pada beberapa titik di Kecamatan Borobudur dan Salaman. 

“Untuk longsoran beragam. Rata-rata 15-25 meter dengan ketebalan satu sampai dua. Salah satunya di rumah Kepala Dusun Tanjung tebing dengan ketinggian 30 meter longsor,” ujarnya. (rfk/lis) 

Editor : Lis Retno Wibowo
#longsor #early warning system (EWS) #borobudur #ngadiharjo #dievakuasi