Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Magelang Budi Suprastowo memaparkan, demam berdarah rentan menyerang masyarakat lingkungan perkotaan. Terutama wilayah yang kepadatan penduduk tinggi. Selain itu juga aspek sanitasinya kurang terjaga dan banyak genangan air.
"Perilaku penduduk dan mobilisasi masyarakat di perkotaan juga berpengaruh. Memang sangat rentan terhadap semua penyakit menular," katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Jumat (13/1).
Dijelaskannya, di awal Januari 2023 ini kasus DBD sudah mulai masuk ke desa. Sebelumnya paling banyak menyerang di wilayah jalan protokol. Seperti Secang, Mertoyudan, Mungkid, Muntilan, Borobudur, dan Tempuran. "Saat ini sudah masuk ke Candimulyo. Sehingga daerah-daerah tersebut beberapa desa dilakukan fogging," papar Budi.
Tercatat 118 kasus demam berdarah menyerang usia 15-44 tahun. Disusul 109 kasus menyerang anak usia 5-14 tahun. Sementara di atas usia 44 tahun hanya tercatat 42 kasus. Namun menyumbang angka kematian paling tinggi sebanyak lima orang. Empat lainnya yang meninggal akibat demam berdarah dialami oleh anak-anak. Sementara 51 kasus lainnya menyerang anak usia dibawah 4 tahun.
Sementara, daerah tertinggi dan rawan terkena demam berdarah ialah Mungkid sebanyak 58 kasus, lalu Muntilan 52 kasus, dan Mertoyudan 45 kasus. Kecamatan Kajoran menjadi wilayah yang nihil kasus demam berdarah sepanjang 2022. (mg12/mia/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo