Pabbajja Samanera diikuti oleh petapa kecil, atau calon biksu selama 10 hari. Mereka datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Seperti Sumatera Utara, Jambi, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, dari usia 12 tahun hingga 65 tahun. Selain itu, juga diikuti oleh peserta dari luar negeri seperti dari Amerika, Australia, Denmark, Jerman dan lainnya.
Ketua Umum Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia (MBMI) Agus Jaya mengatakan, Pabbajja Samanera sementara ini dilangsungkan selama 10 hari. Adapun rangkaian hari ini pradaksina atau memutari Candi Borobudur sebanyak tiga kali.
“Memutari candi tiga kali untuk menghormat Buddha Dharma dan Sangha. Setelah pradaksina menuju ke acara pentahbisan menjadi seorang Pabbajja Samanera Sementara selama 10 hari,” kata Agus kepada wartawan di Candi Borobudur, Sabtu (17/12/2022).
Menurutnya, Pabbajja Samanera memiliki arti latihan meninggalkan kehidupan duniawi dengan menjadi petapa kecil atau calon biksu. Kenapa disebut sementara, karena latihan ini dibuat untuk sementara waktu (10 hari). “Biasanya kalau Pabbajja Samanera itu biasanya sampai satu bulan, namun ini kita cuma 10 hari berlatih seperti pesantren kilat,” jelasnya.
Pabbajja Samanera sementara, merupakan bentuk pengenalan kehidupan monastik, sekaligus pelatihan moral dan spiritual dalam agama Buddha. Agus menyampaikan sebagai Samanera sementara, para peserta memiliki aturan yang sama dengan Samanera yang tetap, yaitu 10 latihan moralitas (dasasila ) dan 75 tata krama dalam kehidupan monastik (sekhiyavatta). Program Pabbajja Samanera merupakan bentuk pelatihan character building di internal umat Buddha, yang berguna untuk memajukan moral dan spiritual.
“Kita berharap usap pelatihan ini mampu memberikan inspirasi serta teladan moral serta kontribusi positif lainnya, bagi keluarganya, juga lingkungan masyarakat. Tentunya meningkatkan kualitas moral umat Buddha di Indonesia,” harapnya.
Agus menambahkan, Pabbajja Samanera kali ini pertama kali diadakan di Candi Agung Borobudur. Biasanya pelatihan diadakan di vihara-vihara. Hal ini sesuai dengan keputusan pemerintah yang mengembalikan fungsinya Candi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha sekaligus destinasi wisata spiritual dunia. (rfk/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo