Monumen Paku Bumi Dibangun di Simpang Bayeman, akan Jadi Ikon Baru Kota Magelang

Puput Puspitasari • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 23:48 WIB
Peletakan batu pertama Monumen Paku Bumi oleh Wali Kota Magelang Damar Prasetyono dan pengusaha Slamet Santoso,  Kamis (17/9/2026).
Peletakan batu pertama Monumen Paku Bumi oleh Wali Kota Magelang Damar Prasetyono dan pengusaha Slamet Santoso,  Kamis (17/9/2026).

RADARMAGELANG.ID, MagelangKota Magelang bersiap memiliki ikon baru yang sarat akan filosofi Gunung Tidar sebagai Pakuning Tanah Jawa. Slamet Santoso—pengusaha toko emas di Kota Magelang memprakarsai pembangunan Monumen Paku Bumi setinggi 15 meter di Simpang Bayeman.  

Kamis (17/9/2026) tadi, banyak pasang mata yang menjadi saksi peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Wali Kota Magelang Damar Prasetyono bersama Slamet Santoso. 

Wali Kota Damar mengungkapkan alasan pemilihan Simpang Bayeman sebagai lokasi pembangunan. Titik ini berdekatan dengan Gunung Tidar dan merupakan titik persimpangan terbesar di Kota Magelang. “Pertigaan di sini paling besar, artinya butuh space yang cukup. Penataan ruang dilakukan agar monumen yang luar biasa ini tidak mengganggu arus lalu lintas,” ungkap Damar.

Desain monumen Paku Bumi setinggi 15 meter yang menyerupai paku dari bahan tembaga dengan ornamen ukiran Jawa dan pahatannya seperti yang ada di keris Nogososro.
Desain monumen Paku Bumi setinggi 15 meter yang menyerupai paku dari bahan tembaga dengan ornamen ukiran Jawa dan pahatannya seperti yang ada di keris Nogososro.

Pemkot juga melakukan penataan kawasan sekitar dengan membongkar planter (pot tanaman jalan) serta memperluas akses jalan dan trotoar.  Area terdampak penataan mencapai panjang sekitar 300 meter, mulai dari depan pertokoan Mie Gacoan hingga persimpangan.

Penataan ini juga mencakup pelebaran jalan sekitar 9 meter serta penambahan jalur khusus sepeda. “Lampu lalu lintas nantinya juga akan tetap ada. Harapan saya, saat tahun baru nanti sudah ada ikonik baru yang menjadi kebanggaan di Kota Magelang,” imbuhnya.

Adapun terkait detail rancangan teknis, bahan, hingga ukiran nantinya akan dipublikasikan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) agar dapat diketahui oleh masyarakat luas. “Pembangunan monumen ini juga nol APBD,” ungkapnya.

Pembangunan monumen mirip paku dari bahan tembaga dengan ornamen ukiran Jawa dan pahatannya seperti yang ada di keris Nogososro ini ditargetkan selesai sebelum akhir tahun. Dengan harapan, ikon baru tersebut bisa menjadi hadiah di malam pergantian tahun baru serta mempercantik kawasan Bayeman. 

Sementara itu, pengusaha Slamet Santoso mengaku bahwa gagasan pembangunan ini sebenarnya muncul lebih dari 10 tahun lalu. Keinginan tersebut baru dapat terealisasi setelah mendapat respons positif dari Wali Kota Magelang Damar Prasetyono. Pihaknya telah mendesain bentuk monumen sedemikian rupa. Segala ukiran dan ornamen pada monumen dibuat agar mempunyai makna yang agung dan mencerminkan Kota Magelang.

Dijelaskan olehnya, gagasan ini berangkat dari keterkaitan kuat Kota Magelang dengan Gunung Tidar yang dikenal sebagai Pakuning Tanah Jawa. Kemudian dimaknai sebagai sebuah ‘pusaka’ yang harus dijaga bersama. “Pusaka itu harus dijaga, dihormati, dan diagungkan. Orang yang berada maupun yang lewat di Kota Magelang harus menjaga dan menghormati kota ini seperti kita menjaga pusaka. Masyarakat juga harus membawa kehormatan dan perilaku yang baik,” tegasnya. (put/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
pakuning tanah jawa paku bumi toko emas HK Wali Kota Magelang Damar Prasetyono monumen