Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Dimas Indra Febriyanto Kenalkan Radio Transistor ke Pelajar

Puput Puspitasari • Selasa, 20 Januari 2026 | 22:03 WIB
Dimas Indra Febriyanto mengenalkan koleksi radio transistor kepada pelajar.
Dimas Indra Febriyanto mengenalkan koleksi radio transistor kepada pelajar.

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Radio transistor miliki pesonanya sendiri. Keunikan bentuk dan warna-warna yang menggoda, serta menjadi benda yang membangkitkan sejarah perjalanan radio—membuat Dimas Indra Febriyanto kecantol mengoleksinya sejak 2017 silam.

Sudah 150 pesawat radio yang ia kumpulkan. Ada yang dipajang, ada pula yang disimpan rapi dalam kardus.

Biasanya, radio-radio yang disimpan itu hanya akan dikeluarkan untuk keperluan pameran. Atau karena kedatang tamu, yang benar-benar ingin melihat koleksinya.

Tak terhitung berapa rupiah yang sudah ia keluarkan untuk memuaskan hobinya itu. “Kebetulan saya mantan penyiar radio, dan berhenti awal 2017. Saya tidak ingin kenangan radio hilang begitu saja, saya putuskan untuk mulai mengoleksinya,” akunya usai mengenalkan radio transistor kepada siswa SMA Negeri 1 Muntilan, Selasa (20/1/2025).

Dimas ingat betul, radio transistor pertama yang dikoleksinya milik orang Salatiga. Ia bersemangat naik motor menempuh jarak yang tak dekat. “Saya beli harganya Rp 250 ribu. Mereknya Telesonic keluaran 1970-an. Itu buatan Indonesia, tapi komponennya dari Jepang, dirakitnya di Indonesia,” jelasnya.

Sekarang, radio transistor makin banyak diminati pencinta barang lawasan maupun barang antik. Barang pun makin sulit dicari. Fenomena ini sukses mengerek harga radio transistor melangit. “Sekarang nggak murah. Apalagi yang warnanya pastel, seperti putih atau oranye wortel merek Toyo Japan keluaran tahun 1970-an, bisa Rp 1 jutaan tergantung kondisinya. Untuk radio tabung sudah Rp 1,7 juta,” terangnya.

Pria yang dulu mengudara dengan nama Dimas Villanova itu senang bisa membagikan pengetahuan tentang perjalanan radio di Indonesia kepada generasi-Z di SMA Negeri 1 Muntilan. Momentum ini menjadi kesempatan emas bagi Dimas untuk memantik semangat anak muda, kembali mencintai radio sebagai media hiburan dan sumber informasi.

“Jujur senang sekali. Harapannya, generasi mudah lebih tahu radio dan bisa ikut melestarikan radio,” ujarnya.

Tidak hanya mengenalkan pesawat radio transistor dan komponennya, Dimas juga menceritakan bahwa dulunya radio tergolong barang mewah, sehingga dikenakan pajak kepemilikan. Di era 1940, Kantor Pos Telegram Telepon (saat ini Kantor Pos) mengurusi pemungutan pajak radio itu. Masyarakat akan mendapatkan bukti sah atas pajak radio yang dibayarkan. “Besaran pajak radio zaman dulu ada yang Rp 2,5. Kemudian Rp 15, ada juga yang Rp 40,” imbuhnya sambil menunjukkan contoh kartu pajak radio.

Seiring dinamika yang ada, pajak kepemilikan radio yang sebelumnya diurusi pemerintah pusat diberikan kewenangannya ke pemerintah daerah. Pemerintah juga akan melakukan sweeping untuk menagih pajak kepemilikan pesawat radio.

Kanza, salah satu siswa terlihat antusias mengamati radio-radio transistor yang dibawa Dimas. Menurutnya, kelas jurnalistik kali ini terasa berbeda, karena bisa belajar sejarah radio sekaligus berlatih wawancara. “Seru sekali. Ternyata bentuk pesawat radio unik-unik, dan bagus,” ungkapnya. (put)

Editor : H. Arif Riyanto
#radio jadul #SMAN 1 Muntilan #Radio Transistor #dimas indra febryanto