RADARMAGELANG.ID, Magelang – Tim Pengabdian dari Fakultas Pertanian Universitas Tidar (Faperta Untidar) mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan bertema “Implementasi Kesesuaian Jenis Tanaman dan Cara Perbanyakan Tanaman Non-Endemik” di Kelompok Tani Gandusari Hijau Lestari, Desa Gandusari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.
Kegiatan ini diketuai Dr. Tri Suwarni Wahyudiningsih, S.Si., M.Si., dengan anggota tim Ratna Suminar, S.P., M.Si., Gian Sapta Adrialin, S.P., M.Si., Farah Soviana, dan Dimas Endiarto.
Kelompok Tani Gandusari Hijau Lestari merupakan komunitas petani yang membudidayakan tanaman langka dan dilindungi yang berperan penting sebagai tanaman konservasi dan sumber plasma nutfah.
Sehingga perlu peningkatan penguasaan teknik budidaya baik. Termasuk tanaman endemik maupun non-endemik.
Jenis tanaman yang telah dibudidayakan sangat beragam dan memiliki nilai ekologis serta ekonomis tinggi.
Yakni pohon kemenyan endemik Merapi, cempaka, kantil merah, kantil kuning, kantil ungu, cemara norfolk (Araucaria heterophylla), kemiri (Aleurites moluccanus).
Lalu Eucalyptus deglupta (Eucalyptus pelangi), eboni (Diospyros celebica), cendana (Santalum album), durian, alpukat, klengkeng merah, trembesi, sereh wangi, mojo, kaliandra, Melaleuca spp., balsa (Ochroma pyramidale), kemuning (Murraya paniculata).
Juga Solobium marahiba, kayu manis (Cinnamomum verum), Melaleuca cajuputi, akar wangi, ulin (Eusideroxylon zwageri), pule, ampupu (Eucalyptus urophylla), meranti, bangkaris, gandaria, dewadaru, salam, matoa, jengkol, mahoni afrika (Khaya senegalensis).
Kemudian, kepel (Stelechocarpus burahol), makadamia, almond, damar mata kucing, damar batu, gurjum, jamu laut, mentais, kalpataru, merbau papua, sawo kecik, nagasari, popopala, bisbul, kopi, kenari, dan aren.
Keragaman jenis tersebut berfungsi sebagai sumber plasma nutfah yang sangat berharga. Terutama untuk mendukung pengembangan sistem agroforestri yang adaptif terhadap kondisi lingkungan wilayah Magelang.
Namun, Kelompok Tani Gandusari Hijau Lestari menghadapi sejumlah permasalahan teknis dalam perbanyakan tanaman. Terutama pada tahap persemaian benih dan pembiakan vegetatif.
Beberapa jenis tanaman seperti balsa, kayu putih, ampupu, dan cendana memerlukan perlakuan khusus untuk meningkatkan viabilitas dan daya kecambah biji.
Sementara itu, jenis tanaman lain memiliki keterbatasan dalam produksi biji, sehingga perbanyakannya perlu dilakukan melalui metode vegetatif seperti stek pucuk dan stek batang.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian Prodi Agroteknologi Faperta Untidar mengadakan serangkaian pelatihan teknis untuk meningkatkan kapasitas petani dalam teknik persemaian dan perbanyakan tanaman non-endemik.
Pelatihan pertama berlangsung pada 19 Agustus 2025, dengan fokus pada identifikasi jenis tanaman non-endemik di wilayah Magelang. Serta analisis permasalahan perbanyakan dalam konteks pengembangan agroforestri.
Ketua Kelompok Tani Gandusari Hijau Lestari, Hasan mengaku pihaknya selama ini belum pernah melakukan perbanyakan vegetatif terhadap tanaman penghasil minyak atsiri seperti kayu putih dan tanaman minyak telon.
Tim pengabdian kemudian berbagi pengetahuan dan pengalaman teknis, termasuk praktik perbanyakan vegetatif menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin dengan memperhatikan syarat bahan stek dan media tanam serta kondisi iklim mikro sekitar tanaman.
Pelatihan kedua diadakan pada 3 Oktober 202. Kegiatan difokuskan pada praktik perbanyakan tanaman secara vegetatif melalui teknik stek pucuk dengan aplikasi ZPT auksin untuk merangsang pertumbuhan akar.
Jenis tanaman yang digunakan sebagai contoh adalah minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi), ampupu (Eucalyptus urophylla), dan rambutan hutan (saninten).
Dalam sesi praktik, Farah Soviana, mahasiswa Prodi Agroteknologi berbagi pengalaman mengenai teknik perbanyakan stek hasil penelitian skripsi dengan judul “Pengaruh Variasi Klon Unggul dan Bahan Pemacu Akar terhadap Pertumbuhan Stek Pucuk Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi.”
Skripsinya dibimbing oleh dosen Dr. Tri Suwarni Wahyudiningsih, S.Si., M.Si. dan Dr. Noor Khomsah Kartikawati, S.Hut., M.P. (dari Pusat Riset Botani Terapan BRIN). Bersama tim pengabdian, pengalaman tersebut diimplementasikan ke masyarakat di Kelompok Tani Gandusari Hijau Lestari.
Kriteria bahan stek yaitu kondisi fisiologis pucuk yang optimal berupa pucuk dengan warna batang hijau kemerahan, daun mekar sempurna, dan tidak terlalu muda maupun terlalu tua.
Daun pucuk dikurangi hingga tersisa lima helai, kemudian dipotong separo untuk menurunkan laju transpirasi dan meningkatkan peluang keberhasilan pembentukan akar.
Pertama-tama disiapkan media tanam berupa tanah top soil yang telah dimasukkan di polybag kemudian disungkup, dengan paranet untuk mengurangi paparan cahaya matahari secara langsung.
Sebelum tanam bahan stek di cek juga derajat kemasaman (pH) tanah, jika media tanah masam maka dicampurkan dolomit untuk menaikkan pH tanah.
Ukuran bahan stek sekitar 15 cm. Sebelum ditanam semua bahan stek direndam dalam larutan zat pengatur tumbuh auksin sebanyak dua gram per 100 ml air selama 10-15 menit.
Posisi bahan stek pada saat ditanam diletakkan mendatar tepat di bagian tengah media tanam.
Kemudian pangkal bahan stek ditekan menggunakan jempol tangan dan secara bersamaan bahan stek diposisikan kembali berdiri vertikal. Setelah itu ditaburi dengan media tanam hingga stek berdiri kokoh.
Perlakuan auksin tersebut bermanfaat untuk menstimulasi diferensiasi sel membentuk organ akar pada pangkal stek.
Evaluasi keberhasilan stek direncanakan dua hingga empat minggu setelah pelatihan. Dengan indikator awal keberhasilan berupa kondisi fisiologis stek yang tetap segar dan tidak mengalami kelayuan dan kering.
Pelaksanaan kedua pelatihan ini mendapat respons positif dari peserta. Kurang lebih 180 stek tanaman berhasil ditanam dalam media tanam, dan peserta menunjukkan ketertarikan untuk mencoba teknik serupa pada berbagai jenis tanaman buah dan tanaman bernilai ekonomis lainnya.
Tim pengabdian juga menyerahkan beberapa koleksi hasil perbanyakan klon unggul tanaman minyak kayu putih kolaborasi Fakultas Pertanian Universitas Tidar dengan Pusat Riset Botani Terapan BRIN sebagai kenang-kenangan untuk ditanam di lahan Kelompok Tani Gandusari Hijau Lestari sebagai bahan koleksi plasma nutfah tanaman kayu putih.
Kegiatan ini menjadi contoh nyata sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam pelestarian serta pemanfaatan tanaman nonendemik secara berkelanjutan.
Selain memperkuat basis plasma nutfah lokal baik endemik maupun non-endemik, kegiatan ini juga mendukung pengembangan sistem agroforestri yang adaptif, produktif, dan berwawasan konservasi di wilayah Magelang. (web/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo