RADARMAGELANG.ID, Magelang – Universitas Tidar (Untidar) berencana membuat sebuah buku tentang Gunung Tidar Magelang. Hal ini dilakukan sebagai wujud komitmen Untidar dalam merawat warisan budaya, spiritual, dan lingkungan hidup Gunung Tidar. Sebab, Gunung Tidar sejak lama dikenal sebagai ikon Kota Magelang. Bukan hanya landmark geografis yang menjulang di tengah kota, tetapi juga pusat spiritual, kultural, dan simbol kepemimpinan bangsa.
Rektor Untidar Magelang Prof. Sugiyarto mengatakan, Gunung Tidar yang dikenal sebagai Pakuning Tanag Jawa, dipercaya menjadi poros penyeimbang tanah Jawa, yang menyatukan harmoni alam dan manusia. Menyadari posisi strategis Gunung Tidar, Universitas Tidar merasa memiliki tanggung jawab akademik dan moral untuk mendokumentasikan kekayaan ini dalam bentuk karya ilmiah. “Beberapa waktu lalu, para dosen Untidar berkumpul dan sepakat untuk menulis serial buku tentang Gunung Tidar. Hal ini berangkat dari kepedulian kami, yang menjadikan Gunung Tidar sebagai objek riset,” ucap Prof. Sugiyarto.
Penerbitan buku tentang Gunung Tidar ini tidak sekadar sebagai proyek akademik, melainkan juga gerakan pelestarian warisan ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai luhur kepemimpinan. Buku ini akan ditulis secara multidisiplin, melibatkan dosen-dosen dari berbagai bidang ilmu. “Penerbitan buku Gunung Tidar bukan sekadar dokumentasi, tetapi bagian dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Bahkan kami kaitkan dengan pengembangan kewirausahaan berbasis kebudayaan, sesuai dengan visi Untidar yang unggul, inovatif, dan berdaya saing,” tegasnya.
Selain itu, Untidar juga sudah melakukan rapat koordinasi dengan Disporapar Kota Magelang dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memastikan langkah penerbitan buku ini sejalan dengan agenda pelestarian lingkungan, pengembangan kebudayaan, serta pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Dari sisi akademik, buku ini diharapkan menjadi referensi utama tentang Gunung Tidar yang dapat digunakan oleh mahasiswa, peneliti, dan masyarakat luas. Dari sisi sosial-budaya, penerbitan buku ini akan mendokumentasikan berbagai nilai luhur, tradisi, dan kisah spiritual yang berkembang di masyarakat Magelang. Dan dari sisi ekonomi, Untidar melihat peluang besar dalam pengembangan kewirausahaan berbasis kebudayaan. Dengan kolaborasi yang luas, Gunung Tidar tidak hanya dilihat sebagai objek wisata atau lokasi geografis, melainkan juga sebagai pusat pengetahuan, inspirasi, dan pembangunan berkelanjutan. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto