Grebeg Gethuk di Alun-alun Kota Magelang, Dua Gunungan Gethuk Ludes Dalam Semenit
Puput Puspitasari• Senin, 14 April 2025 | 05:41 WIB
Prosesi Grebeg Gethuk yang menjadi ikon dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-1119 Kota Magelang yang digelar di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (13/4/2025).
RADARMAGELANG.ID, Magelang - Dua gunungan gethuk setinggi 2,5 meter ludes dalam semenit, setelah Wali Kota Magelang Damar Prasetyono meneriakkan "Ayo, gethuke digrebeg", Minggu (13/4/2025).
Tak hanya itu, ribuan warga yang memadati Alun-alun Kota Magelang juga langsung merangsek ke arah 17 gunungan palawija untuk ngalap berkah.
Trisno, warga yang menunggu puncak acara Grebeg Gethuk sejak pagi itu berlari secepat mungkin agar bisa mengambil minimal dua gethuk dari gunungan lanang dan wadon.
Ia percaya, makanan yang telah didoakan itu berkahi.
Sayangnya, pria 38 tahun itu kalah cepat dengan yang lainnya.
"Saya ingin dapat dua, tapi sulit. Alhamdulillah dapat satu bungkus, dimakan saya, anak dan istri," tuturnya.
Acara Grebeg Gethuk untuk memeriahkan Hari Jadi ke-1119 Kota Magelang itu juga menarik minat turis asal Belgia, bernama Benz.
Ia sudah sembilan kali ke Indonesia, dan kali keempat ke Magelang.
Salah satu agenda wisata ke Magelang adalah menyaksikan Grebeg Gethuk, karena ia sering mendengar tentang acara ini.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Imam Baihaqi mengungkapkan, total gethuk yang digunakan untuk membuat gunungan setinggi 2 dan 2,5 meter itu mencapai 2,5 kuintal.
Gethuk tersebut merupakan buah tangan perajin gethuk asli Kota Magelang.
Grebeg Gethuk merupakan sebuah prosesi budaya yang menjadi identitas Kota Magelang. Prosesi ini dimulai dari Pendopo Mantyasih di Kampung Meteseh.
Di pendopo ini, dipentaskan sendratari yang menggambarkan momentum penetapan Perdikan dan dipercaya sebagai cikal bakal lahirnya Kota Magelang.
Dari kampung ini pula, replika Prasasti Mantyasih dikirab menuju kantor PDAM.
Prosesi ini menandai penyerahan Panca Patih kepada Wali Kota Magelang Damar Prasetyono dan wakilnya, dr Sri Harso, berserta keluarga.
Setelah itu, Damar dan Sri Harso berserta para istri diarak ke alun-alun menaiki kereta kuda.
Arak-arakan ini diiringi bergada, dan disusul rombongan warga yang membawa 17 gunungan palawija.
Rombongan pemimpin kota itu disambut hangat para tamu yang menunggu di halaman Polres Magelang Kota.
Di antaranya, Grengseng Pamuji, Bupati Temanggung Agus Gondrong, dan lainnya.
Mereka pun bersama-sama memasuki alun-alun, dan mengikuti upacara berbahasa Jawa.
Serta menyaksikan sendratari Babad Mahardika yang melibatkan 260 penari dari pelajar dengan 50 orang pendukung dari koreografer hingga pengrawit.
Di sela upacara, seniman Gepeng Nugroho sebagai salah satu pencipta Grebeg Gethuk menyerahkan Surat Pencatatan Ciptaan tentang Hak Cipta Grebeg Gethuk kepada Wali Kota Magelang atas nama Pemkot Magelang sebagai pemegang hak cipta.
Surat Hak Cipta itu dari Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM.
Tertanggal 17 Desember 2024 dan diserahkan di momentum Grebeg Gethuk tahun 2025.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono berharap acara ini semakin disenangi warga. Dan mendongkrak pariwisata.
"Ke depan akan kita kemas lebih baik lagi dan tentunya lebih spektakuler," ujarnya.
Damar menyebut, usia Kota Magelang yang sudah 1119 ini merupakan usia yang matang.
Artinya Kota Magelang memiliki peradaban yang tinggi dan menjadi kota tertua di Jawa.
"Di Nusantara mungkin kita tertua nomor dua. Dengan usia yang begitu matang ini, saya yakin dan optimistis, peradaban Kota Magelang alan betul-betul istimewa kedepannya, dan ini menjadi modal untuk kami untuk membangun kota ini ke arah yang maju, dan lebih sejahtera warga masyarakatnya," imbuhnya.
Ia akan terus menjaga acara ini agar terus bisa disaksikan oleh masyarakat.
"Akan kita laksanakan terus. Akan kita guangkan ke seluruh negeri, secara nasipnal maupun internasional. Agar menambah khasanah budaya di Republik ini," pungkasnya. (put/aro)