RADARSEMARANG.ID- Magelang merupakan kota di Jawa Tengah yang memiliki tanah yang subur dan udara yang sejuk.
Letaknya yang dikelilingi pegunungan membuat tanah Magelang mudah ditanami berbagai komoditas pertanian.
Salah satu komoditas yang menjadi kebanggan masyarakat adalah tembakau.
Tembakau merupakan komoditas pertanian yang memiliki nilai jual fantastis ketika musim panen.
Tak heran jika tanaman ini sangat banyak dibudidayakan oleh masyarakat Magelang.
Suburnya tanaman tembakau di Magelang melatarbelakangi berdirinya berbagai pabrik rokok maupun cerutu legendaris yang sudah eksis sejak lebih dari seabad lalu.
Salah satu pabrik cerutu legendaris yang sangat sukses adalah “Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabrieken”.
Pabrik ini berbentuk bangunan megah bergaya arsitektur kolonial Belanda yan berada di Jalan Tarumanegara, Rejowinangun Utara, Kota Magelang.
Pabrik ini didirikan oleh seorang pengusaha peranakan Tinghoa bernama Ko Kwat Ie. Pada awalnya pabrik Ko Kwat Ie didirikan di Jakarta pada tahun 1900.
Namun, karena sentra produksi tembakau terbesar adalah di Kedu Lama (Magelang dan Temanggung) ia pun memindahkan pabrik ke Magelang pada tahun 1908.
Selain karena sentra tembakau yang dekat, ia juga ingin memperluas bangunan pabriknya.
Pada saat itu, pabrik ini memperkerjakan kuang lebih 500 karyawan yang berasal dari daerah Magelang dan sekitarnya.
Pabrik ini memproduksi beberapa merk cerutu terkenal diantaranya Armada, Panama Steer, Deli Havana Carnaval dan Missigit Deli.
Produk ini menargetkan pasaran kalangan priyayi pribumi dan bangsawan Eropa.
Produksi cerutu Ko Kwat Ie meningkat sangat pesat puncaknya pada masa Perang Dunia I.
Bahkan, produk cerutu ini menembus pasar Eropa, Afrika, Australia hingga sebagian Asia.
Pada masa ini, pabrik Ko Kwat Ie memperkerjakan hingga 3000 karyawan dan memproduksi hingga 5 juta batang cerutu.
Cerutu produksi Ko Kwat Ie sangat digemari oleh masyarakat Eropa karena memiliki citarasa tembakau yang khas dan tidak bisa didapatkan di Eropa.
Pada masa keemasan pabrik Ko Kwat Ie, Andries Cornelis Dirk de Graeff, Gubernur Jendral Hindia Belanda dan Sri Susunan Pakubuwono X menyempatkan diri untuk mengunjungi pabrik ini.
Mereka ingin mengetahui bagaimana cerutu dengan kualitas sebaik ini diproduksi.
Mereka juga dibuat kagum dengan adanya laboratorium khusus yang berfungsi mengawasi kualitas cerutu.
Sayangnya, setelah produksi cerutu Ko Kwat Ie sedang tinggi-tingginya, dunia dihantam krisis ekonomi yang mempengaruhi daya beli masyarakat Eropa pada tahun 1930.
Cerutu dengan kualitas tinggi menurun tingkat pembeliannya, namun cerutu dengan kualitas rendah lebih laku.
Oleh karena itu, Ko Kwat Ie memproduksi peralatan merokok berupa penyimpanan cerutu, pipa cerutu, pemotong cerutu dan sebagainya demi bisa menutupi biaya produksi.
Alhasil, penjualan cerutu Ko Kwat Ie kembali meroket di pasaran Hindia Belanda pada tahun 1934.
Setelah Meninggalnya Ko Kwat Ie
Ko Kwat Ie meninggal pada tahun 1938. Bisnisnya pun kemudian dilanjutkan ke anak-anaknya dan saudara-saudaranya.
Di masa ini, ada banyak pembaruan di alat produksi namun masih membutuhkan tenaga manusia.
Modernisasi dilakukan di sektor alat produksi . Terdapat 1200 karyawan yang bekerja di bawah kepemimpinan anak-anak Ko Kwat Ie.
Tingkat pembelian cerutu ini kembali menurun di era kemerdekaan karena turunnya daya beli masyarakat.
Pabrik ini kemudian memproduksi senjata dengan mesin bubut yang kemudian dipasok ke para pejuang kemerdekaan.
Hal ini dikarenakan salah satu anak Ko Kwat Ie yakni Ko Khoen Gwan berteman baik dengan para tentara pejuang.
Pabrik ini melanjutkan produksi cerutunya di tahun 1960an, akan tetapi tantangannya semakin sulit karena mulai berdiri beberapa produk cerutu dan rokok baru seperti “Rokok Tjap Tjetjak & P”, “Rokok Tjat Daun Djeruk”, “ “Ondo Mas”, dan “Tjap Arit”. Produk-produk ini berdiri dibawah naungan Gabungan Perusahaan Rokok (GAPEROK).
Pabrik ini secara resmi tutup pada tahun 1974, pabrik pun berpindah tangan kepemilikannya ke perusahaan karoseri asal Magelang, New Armada.
Nama New Armada diambil dari nama salah satu produk cerutu Ko Kwat Ie yakni Armada. Kini, New Armada menjadi salah satu perusahaan manufaktur tersukses di Indonesia. (mg27/aro)
Editor : H. Arif Riyanto