RADARMAGELANG.ID, Magelang – Lembaga sosial, Yayasan Hati Suci melalui wirausaha-sosial Kupuku Indonesia mengadakan program kerja sama lintas agama di bidang pendidikan. Yakni dengan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Banyuwangi dan Yayasan Karmel Keuskupan Magelang, Kamis (24/8/2023) lalu. Komitmen ini ditindaklanjuti dengan program live in dan studi banding di SD Kanisius Kenalan, Kabupaten Magelang selama lima hari.
Program ini untuk memberikan pengalaman belajar dan berkegiatan bersama yang sejalan dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada implementasi Kurikulum Merdeka.
Sebanyak 28 perwakilan orang tua, kepala sekolah, guru, dan siswa kelas 4-6 SD dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Dengan harapan bisa mengadopsi dan mengaplikasikan hal-hal baik yang didapatkan selama berada di SD Kenalan.
Pengalaman itu kemudian diteruskan ke 621 sekolah di Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Banyuwangi dan 59 sekolah di bawah Yayasan Karmel Keuskupan Malang.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Hati Suci Ir Joseph Dharmabrata mengungkapkan, Yayasan Hati Suci berkontribusi nyata dalam memutus rantai kemiskinan dalam satu generasi. Serta meluncurkan berbagai inisiatif yang memberikan dampak nyata pada pendidikan. “Semangat kami adalah mewujudkan kasih, harapan dan masa depan bagi banyak orang dengan dampak yang merata dan signifikan,” ujarnya, Jumat (25/8/2023).
Yayasan Hati Suci bersama Kupuku Indonesia percaya, sumber daya manusia unggul menjadi kunci masa depan yang berkelanjutan. Sebab senafas dengan prinsip-prinsip tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs)
Senada dengan Acting CEO Kupuku Indonesia Satrio Anindito, integrasi SDGs di dalam pembelajaran sejak dini juga menjadi kunci dalam membangun masa depan yang lebih baik.
“Melalui kolaborasi ini, kita berupaya membangun iklim dan ekosistem pendidikan yang nyaman, aman dan menyenangkan untuk anak-anak belajar,” tandasnya.
Selama live in di SD Kanisius Kenalan, para perwakilan dari kedua yayasan pendidikan mendapatkan pengalaman pembelajaran yang berorientasi pada sosial, ekonomi dan budaya. Juga meningkatkan numerasi dan literasi para siswa.
Contohnya pada kegiatan Remen Peken (Suka ke Pasar), para siswa diberikan ruang berjualan produk-produk hasil karya mereka di pasar. Mereka mewawancarai pedagang untuk mengidentifikasi bahan dasar dari berbagai dagangan di pasar. Rasa percaya diri dan keterampilan komunikasi para siswa lebih terasah.
Dewan Pakar dan Pendamping Program (Widyaprada BBPMP Provinsi Jawa Timur), Dr Dwi Ilham Rahardjo, MPd, mengungkapkan, konsep Merdeka Belajar menjadi semakin relevan diterapkan di tengah krisis pembelajaran. Serta menjadi solusi mengatasi tantangan tersebut. “Kegiatan kokurikuler di SD Kanisius Kenalan ini, memberikan inspirasi dalam memajukan sistem pendidikan yang mengakselerasi pembentukan SDM unggul di Indonesia,” pujinya.
Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan Perhimpunan INTI (Indonesia-Tionghoa) Robert Njo menambahkan, kerja sama lintas agama di bidang pendidikan memiliki misi pendidikan transformatif. Sehingga dapat meminimalisasi kesenjangan sosial dan tercipta kesejahteraan sosial yang merata dan inklusif. “INTI yang memiliki jaringan 90 cabang di seluruh Indonesia akan berupaya mendukung pengembangan dari program ini,” pungkasnya. (put/web/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo