RADARMAGELANG.ID – Perempuan seringkali dianggap lebih banyak berbicara dibanding laki-laki.
Anggapan ini salah satunya didasarkan pada fakta bahwa perempuan memiliki kadar protein Foxp2, yang berperan penting dalam kemampuan berbahasa, lebih tinggi di otak mereka. Oleh karena itu, perempuan pun dianggap lebih cerewet.
Dalam pandangan masyarakat umum, perempuan juga seringkali diberi label tukang gosip atau orang yang banyak bicara, sedangkan laki-laki lebih dikenal sebagai sosok yang pendiam.
Salah satu klaim yang beredar luas adalah bahwa perempuan mampu mengucapkan hingga 20.000 kata dalam satu hari, sementara laki-laki hanya sekitar 7.000 kata. Namun, apakah angka tersebut benar-benar akurat?
Klaim angka 20.000 kata per hari untuk perempuan ini pertama kali muncul dari Louann Brizendine, seorang penulis dan neuropsikiatri dari University of California San Francisco.
Dalam bukunya "The Female Brain" yang diterbitkan pada tahun 2006, ia menyatakan bahwa perempuan dapat berbicara sebanyak 20.000 kata sehari, sementara laki-laki hanya sekitar 7.000 kata.
Namun, klaim tersebut kemudian menjadi bahan perdebatan dan mendapat banyak pertanyaan.
Mark Liebermann, profesor linguistik dari Universitas Pennsylvania, meragukan data tersebut dan menyatakan bahwa angka tersebut kemungkinan hanya berdasarkan isi buku Brizendine saja, bukan dari hasil penelitian empiris.
Selain itu, Catherine Aponte, mantan psikolog klinis dan dosen di Spalding University, juga menyatakan bahwa klaim Brizendine tidak memiliki dasar akademis yang kuat. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung pernyataannya.
Lantas, seperti apa sebenarnya fakta yang ada?
Penelitian yang dilakukan oleh Campbell Leaper terhadap 73 anak-anak menunjukkan bahwa memang anak perempuan cenderung berbicara lebih banyak daripada anak laki-laki, tetapi perbedaan jumlah kata yang diucapkan tidak signifikan.
Dalam meta-analisis yang dia lakukan terhadap orang dewasa, Leaper justru menemukan kecenderungan pria berbicara lebih banyak dibanding perempuan, meskipun selisih jumlah katanya juga tidak terlalu besar.
Leaper menjelaskan bahwa perbedaan gaya bicara tersebut terlihat pada cara pria dan perempuan berbicara: laki-laki lebih asertif, sementara perempuan lebih afirmatif dalam komunikasi mereka.
Temuan Leaper ini sejalan dengan analisis dari Deborah James, seorang pakar linguistik, dan Janice Drakich, psikolog sosial, yang mempelajari 56 penelitian berbeda mengenai perbedaan gaya berbicara berdasarkan gender pada tahun 1993.
Mereka menemukan hanya dua penelitian yang menyatakan perempuan berbicara lebih banyak daripada laki-laki. Sebaliknya, 34 penelitian lainnya menunjukkan dalam berbagai kondisi, laki-laki justru lebih banyak berbicara.
Menambah data tersebut, James Pennebaker pada 2007 merekam percakapan harian 396 mahasiswa yang terdiri atas 210 perempuan dan 186 laki-laki di Texas, Arizona, dan Meksiko.
Hasil rekaman tersebut memperlihatkan bahwa rata-rata jumlah kata yang diucapkan oleh kedua gender tersebut hampir sama.
Namun, Pennebaker menemukan perbedaan dalam isi pembicaraan. Perempuan cenderung lebih banyak membicarakan orang lain, atau yang biasa disebut bergosip, sedangkan laki-laki lebih memilih membahas hal-hal yang konkret dan faktual.
Meski demikian, ini tidak mengubah fakta bahwa jumlah kata yang diucapkan setiap hari oleh perempuan dan laki-laki tidak berbeda secara signifikan, bertentangan dengan klaim Brizendine.
Akhirnya, Louann Brizendine sendiri mengakui kekeliruan dalam mengemukakan angka tersebut, dan menyatakan bersedia untuk merevisi buku edisinya mendatang dengan menghilangkan klaim yang tidak didukung bukti kuat ini.
Dengan berbagai studi di atas, dapat disimpulkan bahwa stereotip mengenai perempuan yang banyak berbicara 20.000 kata sehari memang tidak sepenuhnya benar dan lebih kompleks daripada yang sering kita dengar di masyarakat. (mg7)
Editor : H. Arif Riyanto