"Jadi terkenal setelah viral. Ramai banyak yang menyambut. Tetangga satu kampung," guraunya.
Saat pertama kali bertemu keluarganya di Jakarta, ia sangat terharu.
Mereka menangis bersama dan saling berpelukan.
Saudara-saudaranya yang dahulu masih muda, sekarang usianya sudah tua. Itu percakapan yang disampaikan melepas rasa kangen.
"Anak lagi ke tempat Pak Dhe-nya tadi ke Jakarta jemput saya bersama-sama. Sekarang di rumah Pak Dhe-nya, suruh nginep di sini tidak mau. Katanya besok ke sini lagi," ucapnya.
Ribut juga kaget, Kabupaten Batang sudah banyak berubah.
Seperti Alun-Alun Limpung, dan jalan di kampungnya yang sudah diaspal.
Dahulunya hanya tanah dengan batu.
Ia bersyukur sebelum Lebaran sudah bisa pulang kumpul dengan keluarga.
"Bisa bodo (Lebaran, Red.) di kampung," ujarnya.
Sebelum berangkat ke Malaysia, ia mengubah namanya menjadi Sakinah Anggraeni. Proses itu dilakukan di agensi yang memberangkatkannya di Malaysia.
Awal berangkat menjadi TKW, Ribut membantah berangkat secara ilegal sekitar tahun 2005.
Di Malaysia ia bekerja untuk rumah tangga.
Karena tidak mendapatkan bayaran, Ribut akhirnya kabur dari rumah majikannya.
"Kerjanya dulu di rumah tangga, karena tidak ada gaji akhirnya kabur. Tak ada hasil ikut rumah tangga itu," terangnya.
Setelah kabur, akhirnya ketemu orang yang mau membantunya mendapatkan pekerjaan. Yaitu, di ladang di dekat hutan hingga 19 tahun lamanya.
Ia bekerja serabutan, seperti mengangkat batu, pasir, mencangkul, mencabuti rumput, dan lainnya.
"Kebanyakan orang tak tahan kalau kerja di rumah tangga itu," cetusnya.
Ia tinggal di sebuah gubug.
Walaupun tinggal sendiri, namun di sana punya banyak tetangga.
Mereka mayoritas orang-orang ilegal yang kabur dari majikannya.
Berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Seperti Madura, Surabaya, Medan, dan lain-lain.
"Di Malaysia tinggalnya di ladangan, sawahan. Dekat hutan, di rumah kungsi. Saya masaknya di luar, kalau di dalam banyak tikus. Kayu itu buat masak. Tinggal sendiri ada tetangganya," terangnya.
Kebanyakan mengalami nasib sama, kabur karena bekerja di rumah tangga tidak mendapatkan hasil.
Di sana, satu hari bekerja ia mendapat upah hingga 50 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 186 ribu.
Menyesuaikan orang yang memberi upah.
Ketika ditanya apakah teman-temannya juga pengin pulang ke Indonesia, ia menjawab bahwa mereka juga ingin pulang.
"Iya, pengine balicepet-cepet," kata Ribut.
Sang kakak, Tamat pun menceritakan, saat bertemu Ribut pertama kali suasana dipenuhi dengan isak tangis haru.
"Saya langsung peluk erat dan cium kening adik saya, tidak menyangka bisa bertemu lagi setelah bertahun-tahun tidak ada kabar," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Kepulangan Ribut menjadi momen yang tidak disangka-sangka.
Karena selama 19 tahun mereka penuh harap dan berusaha mengikhlaskan.
Karena tidak ada kabar, apakah masih hidup ataupun sudah meninggal.
"Ya selama ini kami sudah berupaya, sampai kalau ada pengajian gitu nama Ribut Uripah kami sertakan. Alhamdulillah bisa ketemu lagi dengan kondisi sehat, pas bertemu pertama tadi ya semua menangis, terharu lah," ujarnya.(yan/aro)