Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

19 Tahun Ribut Uripah Tinggal di Hutan Malaysia, Pulang Kampung Halaman di Batang, Begini Cerita Hidupnya

Riyan Fadli • Senin, 24 Maret 2025 | 00:09 WIB

 

 
Ribut Uripah pulang kampung di Batang bertemu sang kakak Tamat. Selama 19 tahun, Ribut hidup di hutan Malaysia.
Ribut Uripah pulang kampung di Batang bertemu sang kakak Tamat. Selama 19 tahun, Ribut hidup di hutan Malaysia.
RADARMAGELANG.ID, Batang - TKW asal Kabupaten Batang yang hilang 19 tahun di Malaysia akhirnya sudah sampai kampung halaman.
Ribut Uripah, 43, sampai di rumahnya, Desa Candirejo, Kecamatan Bawang pada Jumat (21/3/2025)sore.
Jawa Pos Metro Pekalongan berkesempatan berbincang dengannya pada malah harinya, sekitar pukul 19.30 WIB.
Ia berada di rumah sang kakak, Tamat, 70, yang bersebelahan dengan rumah Ribut. Suasananya ramai, banyak kerabat dan tetangga kumpul di rumah Tamat.
Ribut menyapa koran ini dengan ramah.
Ia menuangkan teh hangat dari teko ke dalam gelas dan menambahkan sedikit gula pasir. 
"Monggo, di minum," ujar Ribut memulai percakapan.
Wajah sumringah, bahagia tak bisa di sembunyikan dari raut muka Ribut dan orang-orang yang ada di sana.
Ia pun bercerita, sudah dua minggu di Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia sebelum akhirnya dipulangkan.
Dari Malaysia ia berangkat pukul 04.00, lalu sampai Jakarta sekitar pukul 08.00 pagi.
Selanjutnya dari Jakarta berangkat pukul 10.00, diantar oleh Yoyok Riyo Sudibyo, anggota DPR RI yang juga mantan Bupati Batang.
Yoyok juga turut membantu kepulangan Ribut dari Malaysia.
Kedatangannya di Jakarta disambut beberapa keluarga Ribut yakni sang kakak Tamat, Sami'an, dan sang anak, Turipah Istianah.
Mereka sampai di kampung pukul 16.00 WIB, kedatangannya disambut warga Desa Candirejo.
Logatnya bercampur, bahasa Malaysia dan logat sedikit ngapak khas Limpung.
Baca Juga: 19 Tahun Hilang, TKW Asal Bawang Batang Ditemukan Tinggal di Gubug Sendirian di Tengah Hutan Malaysia
"Jadi terkenal setelah viral. Ramai banyak yang menyambut. Tetangga satu kampung," guraunya.
Saat pertama kali bertemu keluarganya di Jakarta, ia sangat terharu.
Mereka menangis bersama dan saling berpelukan.
Saudara-saudaranya yang dahulu masih muda, sekarang usianya sudah tua. Itu percakapan yang disampaikan melepas rasa kangen. 
"Anak lagi ke tempat Pak Dhe-nya tadi ke Jakarta jemput saya bersama-sama. Sekarang di rumah Pak Dhe-nya, suruh nginep di sini tidak mau. Katanya besok ke sini lagi," ucapnya.
Ribut juga kaget, Kabupaten Batang sudah banyak berubah.
Seperti Alun-Alun Limpung, dan jalan di kampungnya yang sudah diaspal.
Dahulunya hanya tanah dengan batu.
Ia bersyukur sebelum Lebaran sudah bisa pulang kumpul dengan keluarga.
"Bisa bodo (Lebaran, Red.) di kampung," ujarnya.
Sebelum berangkat ke Malaysia, ia mengubah namanya menjadi Sakinah Anggraeni. Proses itu dilakukan di agensi yang memberangkatkannya di Malaysia.
Awal berangkat menjadi TKW, Ribut membantah berangkat secara ilegal sekitar tahun 2005.
Di Malaysia ia bekerja untuk rumah tangga.
Karena tidak mendapatkan bayaran, Ribut akhirnya kabur dari rumah majikannya.
"Kerjanya dulu di rumah tangga, karena tidak ada gaji akhirnya kabur. Tak ada hasil ikut rumah tangga itu," terangnya.
Setelah kabur, akhirnya ketemu orang yang mau membantunya mendapatkan pekerjaan. Yaitu, di ladang di dekat hutan hingga 19 tahun lamanya.
Ia bekerja serabutan, seperti mengangkat batu, pasir, mencangkul, mencabuti rumput, dan lainnya. 
"Kebanyakan orang tak tahan kalau kerja di rumah tangga itu," cetusnya.
Ia tinggal di sebuah gubug.
Walaupun tinggal sendiri, namun di sana punya banyak tetangga.
Mereka mayoritas orang-orang ilegal yang kabur dari majikannya.
Berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Seperti Madura, Surabaya, Medan, dan lain-lain. 
"Di Malaysia tinggalnya di ladangan, sawahan. Dekat hutan, di rumah kungsi. Saya masaknya di luar, kalau di dalam banyak tikus. Kayu itu buat masak. Tinggal sendiri ada tetangganya," terangnya.
Kebanyakan mengalami nasib sama, kabur karena bekerja di rumah tangga tidak mendapatkan hasil.
Baca Juga: Disnakerintrans Kabupaten Wonosobo Gencar Sosialisasi Prosedur Calon TKI
Di sana, satu hari bekerja ia mendapat upah hingga 50 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 186 ribu.
Menyesuaikan orang yang memberi upah.
Ketika ditanya apakah teman-temannya juga pengin pulang ke Indonesia, ia menjawab bahwa mereka juga ingin pulang.
"Iya, pengine bali cepet-cepet," kata Ribut.
Sang kakak, Tamat pun menceritakan, saat bertemu Ribut pertama kali suasana dipenuhi dengan isak tangis haru.
"Saya langsung peluk erat dan cium kening adik saya, tidak menyangka bisa bertemu lagi setelah bertahun-tahun tidak ada kabar," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Kepulangan Ribut menjadi momen yang tidak disangka-sangka.
Karena selama 19 tahun mereka penuh harap dan berusaha mengikhlaskan.
Karena tidak ada kabar, apakah masih hidup ataupun sudah meninggal.
"Ya selama ini kami sudah berupaya, sampai kalau ada pengajian gitu nama Ribut Uripah kami sertakan. Alhamdulillah bisa ketemu lagi dengan kondisi sehat, pas bertemu pertama tadi ya semua menangis, terharu lah," ujarnya.(yan/aro)
Editor : H. Arif Riyanto
#tinggal di hutan #tkw malaysia #bawang #Kabupaten Batang #Ribut Uripah