RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Magelang memang terkenal dengan wisata alam yang sangat menakjubkan. Namun selain tempat wisata, makanan khas Magelang tidak kalah populernya. Salah satunya puyur.
Puyur merupakan olahan makanan yang berbahan dasar singkong. Dusun Purwogondo, Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag, menjadi sentral produksi puyur terbesar di Kabupaten Magelang.
Hampir 70 persen warga Purwogondo memilih usaha puyur sebagai mata pencaharian utama yang sudah berjalan puluhan tahun. Usaha mikro kecil menengah (UMKM) ini mampu menyerap tenaga kerja warga sekitar. Sehingga dapat membantu perempuan masyarakat setempat.
Ibrahim, adalah salah satu pemilik usaha puyur yang sudah berdiri sejak tahun 1987. Pria 52 tahun ini belajar memproduksi puyur dari pamannya, kemudian membuka usaha sendiri.
Setiap hari ia memproduksi 2-3 ton singkong sebagai bahan baku utamanya.
Singkong yang disuplai ke tempat produksi Ibrahim berasal dari berbagai daerah. Seperti, Gunung Kidul, Purbalingga hingga Sumatera. Dan tentu saja dari Grabag sendiri.
Tidak semua singkong dapat menjadi bahan untuk membuat puyur. Namun singkong jenis super dan rengganis yang berkualitas bagus. Jenis singkong ini dinilai lebih unggul karena kadar airnya sedikit.
“Ada beberapa variasi rasa. Yakni rasa gurih, pedas, dan pedas manis. Kami beri warna berlainan untuk membedakan rasa,”tuturnya.
Untuk membuat puyur memerlukan proses yang cukup lama. Langkah pertama singkong dikupas lalu dicuci bersih. Kemudian diparut menggunakan mesin untuk mempercepat proses produksi.
Singkong parut dipress menggunakan alat press tradisional hingga kadar air yang terkandung dalam singkong hilang dan mengeras. Kemudian singkong dikukus hingga matang. Hasil kukusan dimasukkan ke penggilingan yang menghasilkan lonjoran adonan puyur.
Setelah dingin dan mengeras, lonjoran puyur dipotong-potong menggunakan mesin untuk mempermudah proses pemotongan. Setelah itu potongan puyur di masukkan ke mesin molen untuk diberi perasa dan pewarna makanan.
Proses selanjutnya puyur dijemur di bawah terik matahari selama 1-2 hari menyesuaikan cuaca panas. Puyur kering tersebut dipacking dengan berat 5 kilogram per bungkus.
Puyur mentah tersebut didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia. Bisa lewat pengepul atau dijual sendiri dengan diberi label nama. Puyur produksi Ibrahim biasanya disetorkan ke pengepul yang dipasarkan ke Jawa Tengah, Bogor, Cirebon, Jakarta, Surabaya, Sumatera, dan Kalimantan.
Harga grosir berkisar Rp 50-60 ribu per 5 kilogram. Pihaknya memproduksi puyur setiap hari. Bila ika stok masih banyak, hanya memproduksi sedikit, atau menunggu bahan baku disuplai dari pengepul singkong.
“Ketika musim penghujan dan tidak ada panas, biasanya puyur yang belum kering saya angin-anginkan di suhu ruang. Lalu diberi obat putih khusus makanan untuk mengantisipasi tumbuhnya jamur pada puyur,” ujar Ibrahim kepada Jawa Pos Radar Magelang menjelaskan cara mengantisipasi cuaca yang tidak bersahabat.
Untuk mengantisipasi kehabisan stok ketika musim penghujan, biasanya pada saat musim panas Ibrahim memproduksi puyur lebih banyak sehingga ketika penghujan tiba, slondok kering tetap bisa dipasarkan.
Dengan adanya UMKM pembuatan puyur yang ada di Dusun Purwogondo, membantu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar untuk menunjang perekonomian.
Ibrahim mempunyai pegawai tetap 6 orang. Sedangkan pekerja lepas yang biasanya mengupas kulit singkong yakni para ibu-ibu 15-20 orang. (wakhidatul arifah/hanifah atha rahmawati/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo