Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Menilik UMKM Makanan Khas Magelang, di Sentra Slondok Grabag : Produksi 3 Ton per Hari, Pasarkan ke Kota-Kota Besar

Magang Radar Magelang • Jumat, 15 November 2024 | 04:06 WIB
Wartawan Radar Magelang berpose di antara tumpukan slondok produksi Dusun Purwogondo Desa Sumurarum, Grabag, Kabupaten Magelang yang siap dipasarkan ke kota-kota besar.
Wartawan Radar Magelang berpose di antara tumpukan slondok produksi Dusun Purwogondo Desa Sumurarum, Grabag, Kabupaten Magelang yang siap dipasarkan ke kota-kota besar.

RADARMAGELANG.ID Mungkid - Slondok adalah salah satu makanan khas Magelang, Jawa Tengah.

Makanan berbahan dasar singkong tersebut banyak diproduksi di  wilayah Kecamatan Grabag.

Tepatnya di Dusun Purwogondo, Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.

Hampir 70 persen warga setempat menjadi perajin slondok. Salah satunya adalah Supriyanto.

Warga Dusun Purwogondo ini memproduksi slondok sejak tahun 1987.

Pria berusia 52 tahun ini mewarisi usaha slondok dari keluarganya alias usaha turun-temurun.

Setiap hari ia memproduksi berkisar 2 sampai 3 ton slondok. Adapun bahan baku singkong yang utama berasal dari Grabag.

“Singkong Grabag kadar airnya lebih sedikit sehingga bagus dijadikan slondok.

Namun kalau hanya mengandalkan dari Grabag tidak cukup. Lalu mendatangkan dari Purbalingga, Lampung, Banjarnegara, Gunungkidul, Kalimantan dan Sumatera,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Magelang ketika ditemui di rumahnya. 

Untuk jenis singkong yang digunakan dipilih yang berkualitas.

Yakni jenis singkong super dan rengganis. Jenis singkong rengganis dinilai lebih unggul karena kadar air yang terdapat pada singkong sedikit.

Ia memproduksi slondok beraneka rasa.

Ada rasa asin, pedas dan pedas manis. Penjualannya dengan dikemas 5 kilogram. Makanan ini dipasarkan ke sejumlah daerah.

Seperti Bogor, Cirebon, Jakarta, Surabaya, Kalimantan dan di Jawa Tengah sendiri.

Harga slondok yang diproduksi Suprianto Rp 70.000 untuk kemasan 5 kilogram.

 

Pengupasan kulit singkong dilakukan oleh karyawan
Pengupasan kulit singkong dilakukan oleh karyawan

Proses pembuatan slondok lumayan panjang dengan cara tradisional menggunakan tenaga manusia dan mesin.

Ia dibantu 5 orang yang bertugas menggiling, membumbui, menjemur hingga packing.

Sedangkan pekerja lepas antara 15 sampai 20 orang yang tugasnya mengupas kulit singkong.

Proses pembuatannya, setelah singkong dikupas lalu dicuci bersih, kemudian diparut menggunakan mesin.  

Singkong parut kemudian dipress menggunakan alat press tradisional hingga kadar air yang terkandung dalam singkong hilang dan mengeras.

Kemudian dikukus hingga matang menggunakan kayu bakar. Didiamkan 2-3 hari hingga sedikit mengeras.

Setelah itu potong kecil-kecil dan masukkan ke mesin penggilingan yang akan menghasilkan lembaran slondok.

Penjemuran slondok saat cuaca terik
Penjemuran slondok saat cuaca terik

Lembaran slondok dijeweri (dipisah-pisahkan) dan dipotong menjadi empat bagian. Proses selanjutnya pemberian bumbu, perasa, dan warna pada slondok. Setelah itu slondok dijemur di bawah terik matahari selama 1-2 hari atau menyesuaikan cuaca panas.

Setelah kering slondok dipacking dengan berat 5 kilogram per bungkus dan siap untuk didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia. Untuk dikonsumsi, slondok buatan Supriyanto ini harus digoreng terlebih dulu. 

“Slondok dibuat setiap hari. Tapi jika stok slondoknya masih banyak atau saat musim hujan, produksinya agak dikurangi,”tuturnya.

Saat musim penghujan, jika tidak mendapatkan sinar matahari, slondok basah yang tidak dapat dijemur, diangin-anginkan.

Juga diberikan obat putih khusus makanan untuk mengantisipasi tumbuhnya jamur.

Agar tidak kehabisan stok, pada musim panas ia memproduksi lebih banyak dengan memanfaatkan terik matahari.

Sehingga pada saat musim penghujan tiba, slondok kering tetap bisa dipasarkan.

“Untuk pemasaran kadang cepat kadang lambat. Rata-rata penggarapan satu truk slondok membutuhkan waktu satu minggu,”imbuh Supriyanto.

Dengan usaha mikro kecil menengah (UMKM) pembuatan slondok di Dusun Purwogondo, membantu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. (wakhidatul arifah/hanifah atha rahmawati/lis)

 

 

    

Editor : Lis Retno Wibowo
#UMKM #slondok #magelang #makanan khas magelang #UMKM Magelang #singkong #sentral produksi slondok Sumurarum