Oleh: Azis Subekti
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Dapil Jawa Tengah VI
RADARMAGELANG.ID--Ada kalanya sebuah pelajaran tidak datang sebagai model yang harus ditiru, melainkan sebagai cermin yang membantu kita melihat diri sendiri dengan lebih jernih.
Pengalaman China dalam menjaga ketahanan pangan—yang di banyak wilayahnya bertumpu pada bambu dan tunas mudanya—tidak perlu dipahami sebagai metafora yang dipaksakan.
Ia lebih tepat dibaca sebagai cara berpikir: bagaimana suatu bangsa merawat sumber pangan sesuai dengan watak alamnya sendiri.
Rebung di China tumbuh karena ekosistemnya memungkinkan.
Ia hadir di wilayah tertentu, pada musim tertentu, dengan batas panen yang dipahami bersama.
Tidak semua daerah bergantung padanya, dan tidak pula semua orang menjadikannya sumber utama pangan.
Di situlah letak kebijaksanaannya. Ketahanan pangan tidak dibangun dari satu jenis komoditas yang dipaksakan merata, melainkan dari kesadaran bahwa setiap lanskap memiliki kekuatannya sendiri.
Pelajaran ini menjadi relevan bagi Indonesia, negeri dengan keragaman ekologi yang jauh lebih kompleks.
Dari sagu di timur, jagung dan umbi di wilayah kering, hingga padi di daerah basah, Indonesia sejatinya memiliki banyak “rebung”—banyak sumber pangan yang lahir dari kearifan lokal dan telah teruji oleh waktu.
Masalah kita bukan pada ketiadaan sumber, melainkan pada kecenderungan menyeragamkan.
Upaya pemerintah untuk keluar dari jebakan lama ketergantungan impor patut dibaca sebagai langkah korektif.
Pencapaian swasembada pada komoditas strategis menunjukkan bahwa negara mulai kembali percaya pada kemampuan petani dan daya dukung tanahnya.
Tetapi swasembada hanya akan kokoh jika ia dibangun di atas fondasi keragaman, bukan homogenisasi.
Ketahanan pangan nasional tidak mungkin berdiri hanya di atas satu tanaman, satu wilayah, atau satu pendekatan.
Di sinilah kearifan lokal menemukan relevansinya kembali. Ketika pangan diproduksi dan dikonsumsi sesuai dengan kondisi setempat, risiko krisis menjadi lebih tersebar dan lebih mudah dikelola.
Alam tidak dipaksa bekerja melampaui kemampuannya, dan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar.
Ini bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi rasional menghadapi perubahan iklim dan ketidakpastian global.
Pengalaman China memperlihatkan bahwa negara dapat hadir tanpa mematikan pengetahuan lokal.
Negara menjaga kerangka besarnya—ekosistem, tata kelola, dan keberlanjutan—sementara masyarakat mengelola detailnya sesuai konteks wilayah.
Bambu tumbuh di tempat yang tepat; pangan lain tumbuh di tempat lain.
Tidak ada ambisi untuk menyeragamkan semuanya.
Indonesia, dengan segala kelebihannya, berada di jalur yang sama jika mau bersabar.
Setelah menekan ketergantungan impor dan menegaskan swasembada, tantangan berikutnya adalah memastikan kesinambungan.
Bukan dengan memperluas produksi secara seragam, tetapi dengan memperdalam pemahaman terhadap potensi tiap daerah. Ketahanan pangan ke depan harus dirancang sebagai mozaik—bukan sebagai satu warna tunggal.
Pada titik ini, rebung tidak lagi berdiri sebagai simbol yang berlebihan.
Ia hanyalah pengingat bahwa pangan tumbuh dari kesesuaian antara manusia dan alam.
Setiap tempat memiliki “rebung”-nya sendiri, dengan nama dan bentuk yang berbeda. Tugas negara dan masyarakat adalah memastikan bahwa kesesuaian itu tidak dirusak oleh keserakahan, ketergesaan, atau kebijakan yang lupa pada konteks.
Ketahanan pangan, pada akhirnya, bukan soal meniru jalan bangsa lain, melainkan menemukan kembali jalan kita sendiri—jalan yang sudah lama ada, tetapi sering kita abaikan. (*/put)
Editor : H. Arif Riyanto