Oleh : Muhammad Alfa Risqin Fatrah Novazianto*
Banjir adalah peristiwa meluapnya aliran air yang berlebihan sehingga menutupi wilayah daratan yang seharusnya kering. Air yang meluap tersebut biasanya berasal dari danau atau sungai yang melebihi kapasitas normal akibat adanya akumulasi air hujan atau pemampatan sehingga menjadi meluber.
Sistem drainase yang buruk dapat memperparah kondisi banjir karena menghambat aliran air menuju tempat pelepasan. Aliran air yang terhambat dapat menyebabkan kerugian bagi lingkungan, masyarakat, dan aktivitas sehari-hari.
Penyebab banjir di Aceh dan Sumatera pada November 2025 berkaitan erat dengan curah hujan yang tinggi dan berlangsung selama berhari-hari. Curah hujan yang intens menyebabkan peningkatan debit sungai-sungai besar yang mengalir dari kawasan pegunungan.
Lereng pegunungan yang curam serta pembabatan hutan akibat eksploitasi berlebihan menyebabkan cepatnya run off air ke daerah hilir.
Hilir sungai yang padat pemukiman menyebabkan meningkatnya risiko banjir sampai enam kali lipat dibandingkan tanah terbuka yang mempunyai daya resap air yang tinggi.
Jenis banjir yang terjadi adalah banjir bandang yang datang secara tiba-tiba dengan aliran air sangat deras. Banjir bandang tersebut membawa material alam yang dilaluinya, seperti lumpur, batu, dan batang pohon utuh bekas pembabatan hutan.
Material yang terbawa banjir tersebut menghancurkan infrastruktur publik sehingga menyebabkan terputusnya akses transportasi dan layanan publik. Masyarakat yang terdampak banjir tidak hanya mengalami kerugian materi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan trauma berkelanjutan.
Penting bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda banjir sejak awal melalui perubahan kondisi lingkungan yang tidak normal. Masyarakat dapat melihat dari meningkatnya intensitas curah hujan dan meluapnya permukaan air sungai.
Masyarakat harus peka terhadap perubahan warna air sungai yang menjadi keruh serta membawa banyak sampah mengindikasikan potensi luapan air sungai.
Air yang meluap hingga memasuki jalan dan permukiman menjadi peringatan serius bagi masyarakat sekitar akan terjadinya banjir.
Banjir menimbulkan dampak yang sangat terasa bagi masyarakat sekitar daerah terdampak banjir. Banjir menyebabkan rusaknya tempat tinggal, sarana dan prasarana, serta kekurangan bahan pangan dan air bersih yang menunjang kehidupan warga sekitar.
Warga yang tinggal disekitar daerah terdampak banjir juga mengalami gangguan kesehatan akibat air kotor dan penyebaran bibit/wabah penyakit.
Penyakit yang muncul di sekitar wilayah terdampak banjir akhirnya memperburuk upaya evakuasi dan pengiriman bantuan logistik bagi masyarakat.
Pencegahan banjir dapat dilakukan melalui upaya partisipasi masyarakat dan pemerintah. Upaya tersebut dapat meliputi perencanaan sistem drainase yang baik, penyediaan tempat pembuangan sampah di kawasan publik, serta penanaman pohon atau tanaman di area sekitar rumah.
Buruknya upaya pengelolaan sampah dapat menyebabkan tersumbatnya aliran air dan memicu terjadinya banjir.
Risiko banjir dapat diminimalisasi jika upaya pencegahan dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, serta kesiapsiagaan untuk menghadapi banjir.
Untuk menghadapi banjir, perusahaan umum daerah air minum (Perumda)) perlu melakukan kesiapsiagaan yang terencana untuk menjaga distribusi air bersih tetap berjalan.
Kesiapsiagaan dilakukan dengan mengamankan instalasi pengolahan air, pompa, dan jaringan perpipaan dari risiko terendam banjir.
Kurangnya kesiapsiagaan untuk mengamankan fasilitas dapat menyebabkan terhambatnya distribusi air dan menurunnya kualitas air. Kesiapsiagaan untuk memantau kualitas air baku agar tetap aman digunakan oleh masyarakat meskipun terjadi banjir. (*/lis)
*Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Akademi Teknik Tirta Wiyata
Editor : Lis Retno Wibowo