Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Cyberbullying: Kekuasaan Baru di Dunia Maya

Magang Radar Magelang • Jumat, 25 Juli 2025 | 20:19 WIB
Naufal Amrul Firdausi, Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret
Naufal Amrul Firdausi, Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret

Oleh: Naufal Amrul Firdausi

RADARMAGELANG.ID— Di zaman digital ini, hampir semua manusia hidup berdampingan di dua dunia: dunia nyata dan dunia maya.

Dunia maya yang dianggap orang sebagai wadah berekspresi, wadah berkreativitas ternyata menyimpan wajah ketimpangan yang cukup rumit dan berbahaya, yang sering kita dengar dengan nama cyberbullying.

Cyberbullying bukan hanya tentang meninggalkan komentar jahat, namun lebih berbahaya daripada itu.

Ia menggambarkan tentang siapa yang punya kuasa, siapa yang berhak berbicara, dan siapa yang dituntun untuk harus tetap diam.

Ada yang dapat berkata tentang apa saja tanpa rasa takut, namun ada juga yang hanya baru meluapkan sedikit ekspresinya saja langsung diserbu hujatan.

Ini menandakan bahwa ternyata tidak semua orang mempunyai kuasa atau posisi yang sama dalam ber media sosial.

Siapa yang berhak berbicara?

Ketika seorang perempuan dari daerah terpencil, dengan jumlah pengikut yang masih sedikit, dan alat yang kurang memadai mengunggah pendapat dia tentang kecantikan, belum habis dilihat namun kolom komentar sudah penuh dengan ejekan: “Ngaca dulu, mbak”, “gak cocok,” dan lain sebagainya.

Sementara itu, influencer dengan pengikut yang banyak melakukan hal serupa, namun mendapatkan penerimaan yang berbeda, yaitu mendapatkan banyak pujian.

Hal tersebut menunjukan bahwa dunia maya memiliki hierarki tidak tertulis mengenai siapa yang dianggap pantas didengar dan siapa yang tidak.

Maka ketika kita membahas mengenai cyberbullying secara tidak langsung kita sedang membongkar bias ketimpangan yang selama ini kita anggap lumrah.

Kekuasaan Tak Kasat Mata

Hal yang terjadi di dunia maya saat ini menurut Pierre Bourdieu disebut sebagai kekuasaan simbolik atau kekuasaan yang tak nampak (invisible power).

Kekuasaan tanpa kekerasan fisik namum menyelinap lewat persepsi, norma yang dibangun, dan cara bicara. Di media sosial kekuasaan dibentuk melalui jumlah likes, jumlah followers, gaya bahasa, atau bahkan gaya berpakaian.

Orang yang berbeda dari “norma” secara tidak sadar akan dengan cepat dihukum oleh publik.

Kenapa ini menjadi penting untuk dibahas dan apa yang bisa kita lakukan?

Cyberbullying menjadi bahasan yang penting karena ini bukan hanya tentang komentar jahat, namun juga tentang siapa yang punya hak untuk berbicara dan siapa yang harus terus dibungkam.

Padahal seharusnya dunia maya menjadi ruang yang setara untuk semua orang berekspresi, berkreativitas, dan berdinamika di dalamnya.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa yang bisa kita lakukan?

Di tengah hiruk pikuk dunia maya, kita sering lupa satu hal: kekuasaan tidak hanya milik mereka yang punya banyak followers tapi juga milik mereka yang memilih tidak diam. Maka upaya untuk mengurangi cyberbullying bukan hanya tentang tidak berkomentar buruk terhadap seseorang, tapi lebih daripada itu.

Ini tentang menciptakan budaya baru, budaya yang lebih adil dan empatik.

Karena pada akhirnya dengan menciptakan budaya baru akan lahir budaya untuk lebih mendengar, lebih adil, lebih manusiawi, dan tidak menghakimi. (*)

Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret

 

Editor : H. Arif Riyanto
#cyberbullying #Norma #fisip uns #influencer