Oleh: Aurea Cahya Dewi
Pengangguran menjadi masalah serius yang berdampak terhadap perekonomian di Indonesia. Pengangguran ialah keadaan dimana dalam sebuah masyarakat, sebagian warganya tidak mampu memasuki kesempatan kerja sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonominya.
Pengangguran di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada Februari 2022, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia sebesar 5,83 persen, turun 0,43 persen poin dibandingkan dengan Februari 2021.
Selain itu, terdapat 11,53 juta orang (5,53 persen) penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19, termasuk pengangguran karena Covid-19 sebanyak 0,96 juta orang.
Meskipun terjadi penurunan jumlah pengangguran pada Agustus 2022, sebesar 5,86 persen dibandingkan dengan 6,49 persen pada Agustus 2021, total pengangguran di Indonesia naik menjadi 8,42 juta orang pada periode Agustus 2022.
Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi ketenagakerjaan Indonesia yang beberapa bulan terakhir menghadapi kondisi gejolak. Salah satunya diakibatkan oleh PHK massal di industri padat karya dan sejumlah startup di Indonesia.
Tidak hanya itu berdasarkan tingkat pendidikan jumlah pengangguran didominasi oleh lulusan SMK yakni mencapai 9,42%. Persentase tingkat pengangguran selanjutnya ialah lulusan SMA sebanyak 8,57%, disusul lulusan SMP sebanyak 5,95% dan lulusan S1 atau Diploma sebanyak 4,80%.
Meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia beriringan dengan semakin banyaknya tantangan serta masalah yang dihadapi oleh para pencari kerja. Salah satu tantangan terbesar adalah persaingan yang tinggi.
Lapangan pekerjaan yang tersedia di Indonesia tidak sebanding dengan SDM. Hal ini membuat para pencari kerja semakin sulit mendapatkan pekerjaan. Permasalahan lainnya yaitu kualifikasi lowongan kerja yang semakin tinggi. Bahkan tidak sedikit para pencari kerja dituntut mampu menguasai berbagai bidang untuk melamar pada satu posisi yang dilamar.
Pengangguran yang tinggi dapat berdampak negatif terhadap perekonomian negara. Ketika banyak penduduk yang menganggur maka daya beli masyarakat menurun sehingga permintaan terhadap barang dan jasa pun menurun.
Hal ini dapat berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan ketimpangan ekonomi, dan akibat akhirnya adalah menurunnya rata-rata pendapatan per kapita dalam suatu populasi.
Karena pengangguran mengurangi pendapatan seluruh masyarakat yang pada akhirnya dapat menimbulkan permasalahan sosial seperti kemiskinan dan lain-lain.
Solusi untuk mengatasi pengangguran adalah pertama, menciptakan lapangan kerja serta memperluas lapangan pekerjaan. Mungkin bisa dengan mendirikan industri-industri baru, proyek, dan lainnya. Kedua, meningkatkan mutu pendidikan. Dengan pendidikan yang berkualitas akan meningkatkan kualitas SDM sehingga memungkinkan memperoleh lowongan pekerjaan lebih mudah.
Mengingat lowongan pekerjaan yang dibutuhkan perusahaan sekarang kebanyakan membutuhkan tenaga kerja minimal dengan lulusan S1. Ketiga, mengembangkan UMKM karena UMKM pun mampu menyerap karyawan atau pegawai yang besar.
Pemerintah dapat mengambil langkah-langkah seperti mendorong investasi, memberikan pelatihan keterampilan kepada pengangguran, dan memberikan dukungan keuangan kepada mereka yang terkena dampak pengangguran.
Selain itu, pemerintah juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter yang tepat, serta memperkuat sektor-sektor ekonomi yang memiliki potensi untuk menciptakan lapangan kerja baru.
Dengan langkah-langkah yang tepat dan solusi yang efektif, diharapkan pengangguran di Indonesia dapat berkurang dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dapat tercapai. (*/lis)
Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi, Universitas Tidar
Editor : Lis Retno Wibowo