RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Upaya mengembangkan kopi Wonosobo kembali digencarkan Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian dan Transmigrasi (Disnakerintrans) Wonosobo. Lewat sarasehan para pelaku kopi, keinginan untuk me-rebranding kopi Wonosobo kembali menguat.
Sarasehan dan launching kemasan perdana digelar Senin (10/11/2025). Dinas mengumpulkan para dedengkot pelaku kopi untuk kembali merumuskan identitas kopi lokal Wonosobo.
Kabid Pelatihan Produktivitas Tenaga Kerja Perindustrian, Nuryanto mengatakan Jumat (14/11/2025), menjelaskan bahwa langkah ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk mengangkat nama kopi Wonosobo yang selama ini kalah pamor dari Temanggung.
Kopi Wonosobo memang sudah dikenal di pasaran, namun kebanyakan masih berdiri per wilayah. Seperti Kopi Slukatan, Bowongso, dan Bismo.
Karena itu, dinas menilai perlu dibuat konsep branding bersama, yakni “Kopi Wonosobo”.
Mengingat kualitas kopi Wonosobo sejatinya telah diakui pasar, namun secara nama masih kalah kuat dibanding Temanggung.
“Secara kualitas Wonosobo punya. Kapasitas juga ada. Tapi belum muncul sebagai identitas bersama seperti kopi Temanggung. Temanggung itu kuat karena brandingnya konsisten, kapasitasnya jelas, kualitasnya terjaga.
Bahkan banyak bahan baku dari luar daerah, termasuk dari Wonosobo, masuk ke Temanggung. Akhirnya dikenal sebagai produk mereka,” ujar Nuryanto.
Ia menyebut para pelaku kopi sepakat branding bersama sangat dibutuhkan, meski beberapa catatan teknis masih harus dibereskan, terutama terkait kapasitas masing-masing produsen.
“Kita sudah bikin kemasan pilot project. Sudah masuk marketplace juga. Tapi untuk bisa jalan besar, kita butuh data kapasitas yang valid. Dari situ kita lakukan reli ke sentra-sentra,” katanya.
Dalam beberapa hari terakhir, tim Disnakerintrans mendatangi sentra kopi seperti Bowongso dan Slukatan.
Tujuannya untuk mengukur kapasitas produksi, kualitas, dan potensi pengembangan.
Hasil awal cukup mengejutkan. Kapasitas di satu wilayah saja ternyata mampu menghasilkan kopi dalam jumlah besar.
“Untuk Slukatan saja, kapasitas total mereka dalam setahun hampir 40 ton. Tapi karena pasar lokal tidak bisa menyerap semua, banyak yang akhirnya keluar ke Temanggung,” ungkapnya.
Meski belum ada angka pasti, ia menyebut 50 persen produksi kopi dari beberapa sentra di Wonosobo mengalir ke luar kota, termasuk Temanggung.
“Angkanya cukup besar. Karena yang bisa menyerap di Wonosobo terbatas. Pelaku kopi sebenarnya ingin produk mereka dibesarkan di sini, supaya nilai tambahnya kembali ke Wonosobo,” katanya.
Dengan penguatan branding dan pengumpulan data kapasitas produksi, Disnakerintrans menargetkan Wonosobo bisa menjadi tujuan utama pembeli kopi, bukan hanya sebagai daerah penyedia bahan baku.
“Kalau branding kuat, pembeli pasti datang ke Wonosobo langsung,” tegasnya.
Penguatan branding, kata Nuryanto, juga dapat membuka jalan bagi pelaku usaha kecil meningkatkan kapasitas produksi serta memaksimalkan nilai tambah bagi petani dan pengolah lokal.
“Intinya kita ingin Kopi Wonosobo berdiri sebagai identitas besar, bukan lagi nama per sentra. Semua ini untuk mengangkat para pelaku IKM agar naik kelas,” pungkasnya. (bis/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo