RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Kampung Ramadan di Jalan Raya Jumprit-Ngadirejo, Kecamatan Ngadirejo, tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi musiman.
Program ini diproyeksikan sebagai fondasi pengembangan pusat ekonomi baru di wilayah tersebut.
Program Kampung Ramadan kali pertama dibuka pada Kamis (20/2/2026) sore.
Keberadaannya menjadi langkah awal membangun ekosistem ekonomi masyarakat.
Terutama, para pedagang agar lebih terstruktur dan perputaran ekonomi berkelanjutan.
"Kampung Ramadan Ngadirejo ini, menjadi penanda hadirnya ruang kebersamaan yang menguatkan nilai ibadah, silaturahmi, sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Bupati Temanggung Agus Setyawan usai peresmian.
Menurutnya, konsep ini tidak hanya berdampak jangka pendek selama Ramadan.
Ia ingin, program ini berpotensi menjadi pusat aktivitas ekonomi baru, yang mampu meningkatkan kualitas produk lokal dan memperluas akses pasar UMKM.
"Ini akan berkelanjutan. Dan menjadi denyut ekonomi baru di wilayah Ngadirejo," tambah bupati.
Sementara koordinator lapangan Kampung Ramadan Ngadirejo, Moestamdjo Seto Purwoko, mengatakan, ada 82 UMKM yang terlibat dalam program ini.
Lokasi Jalan Raya Jumprit-Ngadirejo sengaja dipilih, agar pedagang dan pembeli lebih tertata.
"Kalau pas Ramadan kan banyak pedagang dadakan. Makanya kami fasilitasi agar mereka bisa berjualan di satu lokasi yang tertata. Pembeli juga lebih nyaman karena tidak perlu berhenti (parkir) sembarangan," katanya.
Antusiasme masyarakat pun tinggi. Pada hari pertama pembukaan, jumlah pengunjung mencapai sekitar 2.000 orang.
Bahkan, perputaran uang mencapai ratusan juta rupiah.
Selain aktivitas jual beli, kawasan ini juga akan diisi berbagai kegiatan untuk menarik pengunjung. Itu seperti pertunjukan musik, keroncong, band, hingga lomba antar-TPQ.
Kampung Ramadan Ngadirejo berlangsung setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 19.00 WIB. Program ini akan berlanjut hingga H-3 Lebaran.
"Ke depan, kami ingin menjadikan kawasan ini sebagai city walk. Dari tugu sampai pasar kayu atau terminal sayur, kurang lebih sepanjang sekitar satu kilometer. Ini bisa menjadi pusat ekonomi baru bagi masyarakat sini,” tambah Seto. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo