Oleh : Theo Benito Adiana*
Bayangkan suatu pagi di masa depan, Anda bangun dari tempat tidur dan disambut oleh asisten pribadi yang memberi informasi tentang agenda harian, tenggat pekerjaan, tips terbaik untuk hari ini, kepadatan lalu lintas, rekomendasi makanan sehat, dan berbagai hal lainnya.
Asisten pribadi ini bukanlah manusia, melainkan sebuah sistem kecerdasan buatan. Ini bukan sekadar fiksi ilmiah, tetapi realitas yang sedang berlangsung dan akan semakin berkembang.
Di masa depan, dunia akan dipenuhi oleh kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang siap mengambil alih berbagai peran di sektor jasa, kesehatan, layanan publik, keamanan, pertanian, dan banyak bidang lain.
Terdengar mengerikan, bukan? Oleh karena itu, sekarang adalah saat yang tepat bagi kita, sebagai masyarakat, untuk memahami berbagai kemungkinan yang akan terjadi serta menyiapkan strategi terbaik guna beradaptasi dengan derap kemajuan teknologi ini.
Kehadiran AI di masa depan, merupakan momok yang menakutkan bagi sebagian masyarakat yang merasa pekerjaannya akan tergantikan oleh AI.
Dikutip dari sebuah artikel pada website Yahoo Finance, menurut Mckinsey Global Institute terdapat 70 persen pekerjaan yang memiliki potensi untuk diotomatisasi oleh AI, tetapi hal ini tidak berarti semua pekerjaan akan hilang.
Pekerjaan di masa depan akan tetap ada, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Kabar baiknya, di masa depan masyarakat akan bekerja berdampingan dengan AI. AI akan membantu manusia untuk meningkatkan produktivitas pekerjaan.
Lalu muncul pertanyaan, kapan masyarakat akan mulai bekerja berdampingan dengan AI? Tolok ukur yang dapat menjawab pertanyaan tersebut adalah peralihan industri 4.0 menuju industri 5.0.
Menurut dokumen EU Policy Brief No 8 : Making Industry 5.0 Happen, industri 5.0, mengedepankan 3 tujuan utama, yaitu:
- Human-centricity, menempatkan kebutuhan dan kepentingan pekerja di pusat proses produksi.
- Sustainability, mendorong penggunaan sirkular (re-use, recycle, re-purpose) serta kesejahteraan manusia.
- Resilience, memperkuat ketahanan industri terhadap krisis ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Tetapi dari 3 tujuan utama tersebut, masih terdapat kendala, terutama dalam indikator atau metrik yang disepakati untuk mengukur penerapan industri 5.0.
Sehingga pertanyaan kapan masyarakat akan mulai bekerja berdampingan dengan AI, masih belum bisa terjawab dengan pasti.
Hemat penulis, lambat laun masyarakat pasti akan bekerja berdampingan dengan AI. Jangan menunggu kapan hal tersebut akan terjadi, tapi fokus pada pengembangan diri untuk menambah wawasan tentang cara pemanfaatan AI.
Karena strategi terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah mempersiapkan diri sendiri untuk menghadapi industri 5.0. (*/lis)
*Mahasiswa Informatika Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Editor : Lis Retno Wibowo