Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Pentingnya Map Mapping serta Mentoring Guru dan Orang Tua bagi Masa Depan Anak

Lis Retno Wibowo • Senin, 23 Juni 2025 | 18:38 WIB
Adam Kristiyanto
Adam Kristiyanto

Oleh: Adam Kristiyanto*

“Saya bingung, sepertinya saya tidak punya bakat deh.

Kalimat tersebut relate sekali dengan anak-anak zaman sekarang. Mereka merasa bimbang ketika ditanya guru terkait bakat mereka. Hal tersebut menjadi gema kegelisahan guru maupun orang tua murid.

Di tengah derasnya informasi dan tekanan sosial yang makin rumit, banyak anak merasa tersesat. Merasa tidak yakin dengan apa yang mereka sukai, meragukan kemampuan sendiri, bahkan merasa tidak memiliki kelebihan sama sekali.

Peran guru bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga mendampingi dan membantu anak-anak mengenali dirinya sendiri.

Di sinilah pentingnya sinergi pendidik baik itu dari pihak guru maupun orang tua dalam menerapkan  pendekatan yang disebut map mapping.

Map mapping merupakan media yang bisa digunakan  untuk memetakan potensi anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Proses tersebut memerlukan mentoring yang hangat, konsisten, dan penuh kepedulian.

Map mapping bukan sebatas mencatat apa yang anak atau murid  kuasai, namun juga minat, gaya belajar, bahkan merujuk pada respons emosi. Sayangnya, pendekatan ini masih sering diabaikan.

Sehingga banyak anak tumbuh di tengah pola asuh yang terlalu keras atau sebaliknya, terlalu longgar tanpa arah. Pada penelitian yang dilakukan oleh Supiani dan Ramli (2024), menunjukkan bahwa pola asuh yang tidak seimbang dapat menghambat tumbuhnya rasa percaya diri, kreativitas, dan semangat belajar anak.

Dari sudut pandang penulis sebagai mahasiswa yang belajar pada ranah pendidikan, yang digadang-gadang menjadi calon pendidik di masa mendatang, sebuah kelas bukan hanya suatu tempat untuk menghafal materi, lebih dari itu.

Kelas merupakan ruang eksplorasi bagi guru untuk memfasilitasi anak-anak dalam mencerna materi, belajar mengenal jati diri, belajar akhlak, belajar sopan santun, tempat melatih minat dan bakat, dan masih banyak lagi.

Di lingkungan sekolah atau kelas, guru berperan sebagai fasilitator sekaligus pengamat yang peka terhadap perkembangan murid.

Hal tersebut dapat dilakukan lewat berbagai cara, misalnya pemberian tugas yang beragam, membuka ruang diskusi, mengamati kebiasaan murid, dan dengan melibatkan peran orang tua murid untuk membantu mengonfirmasi perilaku dan memahami anak di lingkungan rumah dengan di sekolah.

Begitu juga peran orang tua yang tidak kalah penting. Mendampingi anak tidak berarti mengarahkan secara kaku terhadap masa depan anak, tapi hadir sebagai penuntun yang sabar.

Mulailah dari hal-hal kecil, seperti memberikan alat gambar ketika anak suka menggambar, berikan buku cerita ketika anak suka bercerita, fasilitasi alat musik ketika anak suka pada bidang musik, dan berikan pujian tulus, dan meluangkan waktu untuk bercerita ataupun mendengar cerita anak.

Dari hal-hal kecil yang tulus diperhatikan, maka anak akan merasa ditemani, disayangi, dan dibentuk kepribadiannya. Mari kita mulai dari ruang kelas dan ruang keluarga.

Sejatinya tidak anak yang benar-benar tanpa bakat, yang ada adalah anak-anak yang belum mendapatkan cukup ruang untuk mengenal dan menumbuhkan potensinya.

Sudah saatnya guru dan orang tua bersinergi untuk menata masa depan anak yang baik, jangan menjadi pendidik yang menilai tanpa memfasilitasi.

Seorang anak bukan kertas kosong yang bisa kita isi sesuka hati. Mereka adalah benih yang dititipkan Tuhan untuk dijaga, dikenali, dan diarahkan agar tumbuh menjadi anak yang baik serta bahagia.

Bila rumah menjadi tempat pemetaan yang bijak, dan sekolah menjadi ruang eksplorasi yang aman, maka anak-anak akan menemukan jalannya. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi pelajar yang utuh, dan itu adalah hadiah terbaik dari proses pendidikan. (lis)

*Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Tidar (Untidar)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Tekanan sosial #pola asuh #map mapping #calon pendidik