Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Bahasa Ibu, Warisan Budaya yang Harus Dilestarikan

Lis Retno Wibowo • Rabu, 11 Juni 2025 | 14:31 WIB
Novita Wahyu Rahmasari
Novita Wahyu Rahmasari

Oleh: Novita Wahyu Rahmasari*

Di era globalisasi seperti sekarang, kemampuan berbahasa asing dianggap sebagai suatu keunggulan. Bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, bahkan bahasa Korea semakin diminati dan diajarkan sejak dini.

Di tengah antusiasme tersebut, ada hal yang justru mulai terabaikan: bahasa ibu. Padahal, bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan warisan budaya yang memuat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan lintas generasi.

Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang diperkenalkan oleh orang tua kepada anak sejak dini. Ia tumbuh bersama emosi, kebiasaan, dan pengalaman hidup.

Lewat bahasa ibu, seorang anak belajar memahami lingkungan, mengekspresikan perasaan, serta membentuk pola pikir. Bahasa ibu adalah jendela pertama menuju dunia. Sayangnya, jendela itu kini mulai ditutup secara perlahan.

Banyak anak di Indonesia yang tidak lagi lancar berbahasa daerah. Di rumah, orang tua lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa campuran dengan unsur asing.

Di sekolah, pelajaran bahasa daerah sering kali dipinggirkan atau dianggap sekadar pelengkap. Di media, konten berbahasa ibu sangat jarang mendapat tempat. Tak heran jika semakin banyak generasi muda yang merasa asing dengan bahasa leluhurnya sendiri.

Fenomena ini tentu memrihatinkan. Ketika sebuah bahasa punah, maka punahlah pula pengetahuan lokal yang tersimpan di dalamnya—pepatah, peribahasa, cerita rakyat, lagu daerah, hingga filosofi hidup.

Bahasa ibu tidak hanya mengandung kata-kata, tetapi juga mencerminkan cara pandang, tata nilai, serta jati diri suatu masyarakat.

Kita perlu menyadari bahwa pelestarian bahasa ibu tidak berarti menolak kemajuan. Justru, dengan menjaga bahasa ibu, kita menjaga keberagaman budaya di tengah dunia yang semakin seragam.

Kita bisa menjadi masyarakat yang melek global tanpa melupakan akar budaya lokal. Menguasai bahasa asing adalah keunggulan, tetapi mengabaikan bahasa ibu adalah kehilangan.

Pelestarian bahasa ibu harus dimulai dari rumah. Orang tua bisa membiasakan diri menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari.

Membacakan dongeng lokal, mengenalkan lagu tradisional, atau menyisipkan kata-kata khas daerah dalam percakapan adalah langkah kecil namun penting. Sekolah juga harus memberi ruang yang adil bagi pembelajaran bahasa daerah, bukan sekadar sebagai formalitas.

Pemerintah daerah dan media lokal memiliki tanggung jawab besar. Konten edukatif dan hiburan dalam bahasa ibu perlu diperbanyak dan disajikan secara menarik.

Festival bahasa, lomba pidato, dan pertunjukan seni dalam bahasa daerah bisa menjadi cara kreatif membangkitkan kebanggaan berbahasa ibu di kalangan generasi muda.

Jika kita terus membiarkan bahasa ibu terkikis tanpa upaya pelestarian, bukan tidak mungkin anak-anak kita kelak akan mengenal bahasa daerahnya hanya sebagai "bahasa kuno" yang sudah tidak dipakai lagi. Kita akan kehilangan lebih dari sekadar kosakata—kita akan kehilangan akar.

Maka, mari kita sadari sejak sekarang bahwa bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah warisan budaya, identitas, bahkan jati diri bangsa. Menjaganya adalah tugas kita bersama—di rumah, di sekolah, di ruang publik, dan di dalam hati. (lis)

*Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Tidar (Untidar)

Editor : Lis Retno Wibowo
#warisan budaya #Bahasa Indonesa #dongeng #Akar Budaya #bahasa ibu