
Oleh: Salma Fiddaraini
RADARMAGELANG.ID--Di tengah tuntutan kurikulum yang semakin kompleks dan target capaian akademik yang terus meningkat, suasana ruang kelas perlahan mulai kehilangan esensinya.
Guru dituntut untuk menyelesaikan materi sesuai jadwal, memastikan seluruh kompetensi tercapai, serta memenuhi berbagai standar penilaian yang telah ditetapkan.
Fokus terhadap pencapaian angka dan hasil akademik sering kali menjadi prioritas utama dalam proses pembelajaran.
Namun, di balik semua tuntutan tersebut, terdapat satu aspek penting yang perlahan terabaikan, yaitu peran guru dalam mendidik dengan hati.
Padahal, pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki karakter, empati, dan nilai-nilai kehidupan yang kuat.
Fenomena ini melahirkan sebuah paradoks yang patut menjadi perhatian bersama.
Di satu sisi, sekolah berusaha mencetak peserta didik yang unggul dalam bidang akademik dan mampu meraih prestasi yang membanggakan.
Namun, di sisi lain, tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan dalam menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari yang memerlukan kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, maupun empati terhadap sesama.
Oleh karena itu, sudah saatnya guru memahami dan mengakui bahwa mengajar dan mendidik merupakan dua hal yang berbeda.



