Panggung Rakyat, Lestarikan Lengger dan Hok-Ya

Sigit Rahmanto • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 07:02 WIB
Pertunjukan seni rakyat yang berlangsung di Lapangan Wira Krida Taruna, Kaliwiro, akhir pekan (22/8/2026). (Istimewa)
Pertunjukan seni rakyat yang berlangsung di Lapangan Wira Krida Taruna, Kaliwiro, akhir pekan (22/8/2026). (Istimewa)

 

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo — Ribuan warga memadati Lapangan Wira Krida Taruna, Kecamatan Kaliwiro, Sabtu (22/8/2026).

Panggung pergelaran seni rakyat bertajuk Pentas Akbar "Barisan Hok-Ya" yang menyajikan atraksi seni Hok-Ya serta Tari Lengger tradisional itu menjadi magnet hiburan gratis sekaligus ruang silaturahmi bagi warga setempat.

Hadir dalam perhelatan tersebut Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, jajaran Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Wonosobo, serta anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Isnaeni.

Acara dikemas secara maraton dalam dua sesi. 

 Yakni sesi siang pada pukul 13.30—17.30 dan berlanjut ke sesi malam mulai pukul 19.30 hingga usai.

Kemeriahan panggung makin terasa istimewa dengan adanya puluhan komunitas tari tradisional topeng lengger dari berbagai penjuru daerah yang melebur jadi satu untuk menyemarakkan acara.

Atmosfer membuncah kala irama karawitan dan dentum khas hok-ya berkumandang, dipadu alunan merdu waranggono Tinah yang mengiringi gerak gemulai lima penari lengger: Retno, Aisah, Sity, Reni, dan Happy.

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengapresiasi konsistensi para seniman dan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.

 "Pemerintah daerah akan terus mendukung ruang-ruang kreatif seperti ini. Seni lengger dan hok-ya adalah kekayaan kebudayaan Wonosobo yang tidak boleh padam, dan panggung rakyat inilah wadah paling efektif untuk merekatkan kebersamaan warga," terangnya.

Afif menambahkan, kolaborasi antarkomunitas seni tradisional menjadi bukti hidupnya semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Ia berharap ajang kebudayaan semacam ini bisa terus dikembangkan hingga jangkauan yang lebih luas agar sektor pariwisata berbasis tradisi lokal di Kabupaten Wonosobo kian bergairah dan dikenal secara nasional.

Sementara itu, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jateng sekaligus Komandan Hokya, Muhammad Isnaeni, menegaskan perhelatan ini merupakan komitmen nyata dalam menjaga eksistensi kebudayaan daerah di tingkat provinsi maupun lokal.

Menurutnya, seni rakyat bukan sekadar tontonan, melainkan identitas daerah yang harus terus dirawat dan diberi panggung di tengah arus modernisasi.

"Ini adalah panggung aspirasi bagi para pelaku seni tradisi yang terus dikawal secara konkret melalui kebijakan agar kebudayaan ini bisa terus lestari," katanya. 

Pihaknya juga bertekad untuk memastikan wadah ekspresi para seniman lengger dan kelompok Hok-Ya mendapatkan perhatian yang berkesinambungan agar proses regenerasi penari muda terus berjalan lancar.

Penyelenggaraan kegiatan yang berlangsung tertib dan kondusif hingga larut malam ini juga membawa dampak signifikan bagi geliat ekonomi lokal.

Kehadiran ribuan pengunjung memicu perputaran ekonomi bagi para pedagang kaki lima dan pelaku UMKM di sekitar lokasi acara. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
hok ya panggung rakyat BUpati Wonosobo afif Nurhidayat