Wujud Nyata Dana Cukai untuk Kesehatan Warga Dinkes Wonosobo Keroyokan Hadapi TBC

Sigit Rahmanto • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 22:22 WIB
Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, responsif, dan merata bukan sekadar isapan jempol. (Istimewa)
Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, responsif, dan merata bukan sekadar isapan jempol. (Istimewa)

 

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo — Komitmen Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, responsif, dan merata bukan sekadar isapan jempol.

Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonosobo, pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2026 benar-benar dioptimalkan untuk menyasar sektor terdepan kebutuhan masyarakat.

Total anggaran DBHCHT Bidang Kesehatan yang dikelola Dinkes Wonosobo tahun ini Rp 5.812.804.241.

Anggaran tersebut merupakan perpaduan antara alokasi murni penetapan awal 40 persen dari total DBHCHT kabupaten (Rp 4,78 miliar) serta suntikan sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) tahun sebelumnya yang cair pada Juni senilai Rp 1,02 miliar.

Baca Juga: Disnakerintrans Wonosobo Gelar Tiga Pelatihan DBHCHT 2026 di Bulan Puasa Perkuat SDM Industri SKT dan Keterampilan Masyarakat

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan menegaskan penambahan dana silpa pada perubahan anggaran penjabaran menjadi momentum krusial untuk memperluas jangkauan program pertolongan kesehatan warga. Dari yang semula terfokus pada tiga kegiatan awal, kini berkembang pesat menjadi tujuh pos kegiatan prioritas strategis.

"Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah dana hasil cukai yang kembali ke daerah benar-benar memberikan dampak langsung (impactful) bagi ketahanan kesehatan masyarakat Wonosobo. Tambahan silpa kita maksimalkan untuk menyentuh kebutuhan vital faskes dan perlindungan warga," terang Jaelan, Selasa (21/7/2026).

Salah satu fokus paling mendasar dari alokasi DBHCHT ini adalah penanganan serius terhadap penyakit menular Tuberkulosis (TBC).

Dinkes mengalokasikan anggaran khusus untuk pengadaan katrid Tes Cepat Molekuler (TCM) sekaligus pemeliharaan rutin unit alat TCM agar deteksi dini TBC berjalan cepat tanpa hambatan.

Tak hanya dari sisi diagnostik, aspek keselamatan tenaga medis juga tak luput dari perhatian. Dinkes Wonosobo turut menganggarkan pengadaan apron pelindung khusus bagi radiografer saat menjalankan pemeriksaan X-Ray TBC di fasilitas kesehatan.

"Deteksi TBC harus cepat dan akurat. Namun di sisi lain, keselamatan para petugas radiologi sebagai garda terdepan juga wajib kita lindungi. Ini bentuk perhatian menyeluruh," tambah Jaelan.

Untuk menjawab tantangan geografis Wonosobo yang berbukit-bukit, DBHCHT 2026 ini juga direalisasikan untuk pengadaan dua unit armada ambulans baru.

Yakni ambulans rujukan untuk Puskesmas Kaliwiro dan ambulans operasional Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Langkah ini diambil untuk memangkas waktu tanggap (response time) penanganan darurat pasien rujukan di wilayah selatan.

Di samping itu, kelengkapan sarana kesehatan gigi masyarakat turut ditingkatkan lewat pengadaan Dental Unit di Puskesmas Kepil 1, serta pemenuhan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) untuk menjamin kelancaran pemeriksaan kesehatan harian.

Segendang sepenarian, aspek keadilan sosial kesehatan diwujudkan melalui komitmen perlindungan jaminan kesehatan. DBHCHT disalurkan untuk pembayaran iuran dan bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP) Kelas 3.

"Dengan proteksi iuran JKN ini, warga miskin dan rentan tidak perlu cemas lagi saat membutuhkan perawatan medis. Inilah wujud nyata DBHCHT dari pajak rakyat, kembali untuk kesehatan rakyat Wonosobo," pungkas Jaelan.

Akselerasi Target Eliminasi TBC 2030 : Jemput Bola hingga Tingkat Desa

Perang melawan penyakit menular Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Wonosobo terus digelorakan secara masif. Tak lagi bersikap pasif menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonosobo kini menggalakkan strategi “jemput bola” demi merealisasikan target nasional Eliminasi TBC Tahun 2030.

Untuk memastikan setiap warga terlindungi, Dinkes Wonosobo memadukan dua pendekatan utama dengan melakukan penanganan komprehensif bagi warga terduga (suspek) TBC dan pendampingan ketat bagi pasien yang terkonfirmasi positif TBC hingga dinyatakan sembuh total.

Langkah taktis ini didukung penuh oleh pengalokasian anggaran yang tepat sasaran melalui dana bagi hasil cukai.

Pendanaan ini dialokasikan untuk memperkuat sarana penunjang diagnostik hingga program pemberdayaan berbasis komunitas.

Dalam memburu kasus terduga TBC, Dinkes mengandalkan kegiatan Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus aktif pada kelompok berisiko tinggi. Tak main-main, armada pencari kasus ini dibekali dengan alat canggih foto toraks X-ray portable yang didampingi langsung oleh tenaga radiografer profesional, serta ditunjang diagnostik presisi Tes Cepat Molekuler (TCM).

Untuk menjamin tes diagnostik berjalan tanpa kendala logistik, ketersediaan pasokan cartridge TCM terus digaransi melalui dukungan DAK nonfisik.

Pasien yang terindikasi dapat langsung dipastikan status kesehatannya secara cepat dan akurat.

"TBC bukan akhir segalanya karena bisa disembuhkan total. Kuncinya adalah penemuan dini dan kepatuhan minum obat secara tuntas sesuai standar," tegas Jaelan.

Namun, penemuan kasus barulah langkah awal. Bagi warga yang terkonfirmasi positif TBC, Dinkes Wonosobo menjamin pelayanan pengobatan standar secara cuma-cuma.

Pengawasan ketat dilakukan mulai dari pemantauan kepatuhan minum obat, antisipasi efek samping, hingga evaluasi berkala hingga pasien benar-benar sembuh.

Bahkan, untuk memutus rantai penularan di lingkungan terdekat, Dinkes gencar melakukan investigasi kontak serumah dan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi anggota keluarga yang memenuhi kriteria.

Gerakan ini tidak berjalan sendiri. Pemkab Wonosobo membangun jejaring koalisi lintas sektor melalui KOPI TBC dan DPPM yang melibatkan rumah sakit, puskesmas, klinik swasta, dokter praktik mandiri, hingga organisasi profesi. Seluruh kasus diintegrasikan ke dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) agar terpantau presisi secara digital.

Sisi edukasi dan penghapusan stigma sosial pun digenjot. Lewat lokakarya khusus, Dinkes membentuk Sekolah Peduli TBC dan Desa Siaga Peduli TBC yang melibatkan kader kesehatan desa untuk mengedukasi masyarakat.

Melalui sinergi Desa Siaga dan Sekolah Peduli TBC, Pemkab Wonosobo ingin membangun kesadaran kolektif untuk temukan TBC, obati sampai sembuh, dan lindungi keluarga dari penularan. (git/lis)

 

Ringkasan 7 Pos Kegiatan Utama DBHCHT Kesehatan 2026

 1. Pengadaan catridge TCM: Akurasi & percepatan deteksi dini TBC

 2. Jaminan Kesehatan PBPU/BP Kelas 3: Proteksi iuran warga kurang mampu

 3. Pengadaan BMHP: Kelancaran pemeriksaan kesehatan rutin

 4. Apron Pelindung Radiografer: Proteksi radiasi untuk petugas X-Ray

 5. Ambulans Rujukan Puskesmas Kaliwiro: Akses responsif kawasan selatan

 6. Ambulans Labkesda: Layanan operasional spesimen & rujukan medis

 7. Dental Unit Puskesmas Kepil 1: Modernisasi fasilitas kesehatan gigi

Editor : Lis Retno Wibowo
DBHCHT tahun 2026 jaelan Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo tuberkulosis