\RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo terus menabuh genderang perang terhadap ancaman penyakit tidak menular (PTM). Menyadari lonjakan angka penderita hipertensi dan diabetes melitus yang cukup signifikan, terobosan strategis diluncurkan.
Tiga inovasi pelayanan kesehatan sekaligus dideklarasikan untuk mendekatkan pelayanan medis langsung ke jantung pemukiman warga. Tiga inovasi tersebut adalah MAS JO SI MANIS (Puskesmas Sukoharjo Sigap Sama Prolanis), SOPANDI (Sistem Observasi dan Pencatatan Prolanis di Desa).
Serta GULALI MANIS (Gerakan Unggulan Laboratorium Keliling Melalui Prolanis). Seremoni peluncuran dipimpin Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, di Puskesmas Sukoharjo I, Rabu (10/6/2026).
Langkah ini menjadi bukti konkret kehadiran pemerintah daerah dalam memperkuat kendali terhadap penyakit kronis di masyarakat. Bupati Afif menegaskan, tantangan kesehatan modern saat ini kian kompleks.
"Kita tidak boleh lagi memakai paradigma lama, hanya menunggu masyarakat datang ke faskes dalam kondisi sakit. Paradigma itu harus dibalik. Pelayanan kesehatan harus aktif, hadir lebih awal, lebih dekat, dan lebih peduli ke masyarakat," tegas Afif dalam sambutannya yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Langkah agresif Pemkab Wonosobo ini didasarkan pada basis data yang riil. Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan, membeberkan jumlah penderita hipertensi melonjak tajam dari 107.394 orang pada 2023, meroket menjadi 136.803 pada 2025.
Penderita diabetes melitus naik dari 7.722 orang menjadi 12.261 orang pada periode yang sama. Dari jumlah tersebut, hingga awal 2026, tercatat ada 57 ribu penderita hipertensi dan 10 ribu pasien diabetes yang belum terjangkau Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).
Meskipun per Februari 2026 telah terbentuk 133 Klub Prolanis Hipertensi (6.796 peserta) dan 51 Klub Prolanis Diabetes (1.788 peserta), jangkauannya harus diperluas demi mencakup total 265 desa dan kelurahan di Wonosobo.
Puskesmas Sukoharjo I berhasil meramu tiga inovasi berbasis digital dan pelayanan lapangan terpadu demi mengover 1.700 penderita hipertensi dan 280 penderita diabetes di wilayah kerjanya.
Inovasi MAS JO SI MANIS, adalah ujung tombak gerakan jemput bola. Petugas kesehatan masuk ke desa-desa melakukan skrining risiko, pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi kelompok, hingga memantau kepatuhan konsumsi obat pasien.
Sedangkan SOPANDI, sistem mencatat hasil pemeriksaan peserta Prolanis secara real-time. Pasien akan menerima rapor kesehatan dan edukasi personal via WhatsApp.
Sistem juga memberi alarm (notifikasi dini) kepada petugas jika ada pasien yang kondisinya memburuk agar segera dievakuasi.
GULALI MANIS sebagai kolaborasi apik bersama UPTD Labkesda Wonosobo yang memboyong fasilitas laboratorium canggih keliling ke desa-desa.
Warga tak perlu merogoh kocek dalam-dalam atau menempuh perjalanan jauh ke kota hanya untuk uji laboratorium penunjang.
Kepala Puskesmas Sukoharjo 1, Norman Kumoro, mengungkapkan antusiasme warga sangat masif hingga kuota klub Prolanis melampaui kapasitas ideal BPJS Kesehatan.
"Semua yang ingin sehat kami layani, termasuk masyarakat yang belum memiliki kepesertaan BPJS," pungkas Norman. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo