RADARMAGELANG.ID, Wonosobo–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo mulai memetakan wilayah rawan krisis air bersih seiring adanya peringatan dini terkait fenomena El Nino 2026.
Fenomena iklim global dengan intensitas moderate hingga kuat ini diprediksi mulai aktif pada Juni 2026 dan akan berlangsung dalam durasi yang cukup panjang hingga awal tahun depan.
Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Wonosobo Sabarno mengatakan, puncak musim kemarau di Wonosobo diproyeksikan terjadi pada Agustus 2026.
Kendati saat ini sisa hujan ringan masih terjadi akibat fase peralihan atau pancaroba, masyarakat diminta segera bersiap menghadapi penyusutan debit mata air yang drastis.
Baca Juga: Siaga Kemarau Panjang, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air Bersih
"Kami dari Tim Reaksi Cepat BPBD Wonosobo terus mematangkan koordinasi dan pemetaan wilayah. Berdasarkan instruksi dan hasil rakor, langkah-langkah mitigasi pasokan air bersih sudah disiapkan demi mengantisipasi dampak El Nino 2026 yang diprediksi berlangsung cukup panjang ini," ujar Sabarno, Jumat (29/5/2026).
Berdasarkan data taktis kebencanaan dan evaluasi berkala dari BPBD, ancaman krisis air bersih akibat penyusutan sumber mata air tersebar di sejumlah titik kritis.
Wilayah Kecamatan Wadaslintang menjadi daerah dengan titik rawan terbanyak yang mencakup Desa Kumejing, Lancar, Trimulyo, Tirip, Somagede, Sumberejo, dan Karanganyar.
Selain itu, kerawanan juga mengintai wilayah hulu, seperti Dusun Pagedongan Desa Tempurejo, Kecamatan Kalibawang yang kerap mengalami kendala jangkauan pipa air saat debit mengecil, serta Desa Kayugiyang Kecamatan Garung yang memiliki ratusan kepala keluarga terdampak langsung saat kemarau ekstrem di kawasan lereng.
Sabarno menjelaskan, titik rawan lainnya juga tersebar di Desa Pacekelan dan Desa Karangsari, Kecamatan Sapuran, Desa Bener dan Desa Burat di Kecamatan Kepil, hingga Dusun Monggor di Desa Ngasinan, Kecamatan Kaliwiro.
Tidak hanya wilayah pinggiran, kawasan perkotaan dan penyangga air yang tersambung jaringan PDAM di sebagian wilayah Kecamatan Wonosobo, Selomerto, Watumalang, dan Mojotengah juga berpotensi mengalami gangguan distribusi akibat penurunan drastis debit sumber mata air.
Guna menekan dampak buruk dari El Nino ekstrem ini, BPBD Kabupaten Wonosobo mengimbau warga untuk segera melakukan langkah mitigasi mandiri.
Salah satunya melalui gerakan hemat air dengan memprioritaskan penggunaannya untuk konsumsi dan sanitasi dasar serta menunda keperluan non-primer, seperti mencuci kendaraan.
Warga juga diharapkan mengoptimalkan bak tandon atau wadah tertutup di rumah masing-masing selama sisa musim peralihan ini, serta menjaga area sekitar mata air dari pencemaran agar sisa debit yang ada tetap layak dikonsumsi.
“Kami sangat berharap masyarakat bisa lebih bijak mengelola air, termasuk bagi para petani di wilayah rawan agar beralih ke komoditas palawija yang tidak rakus air demi menghindari risiko gagal panen total," tambahnya.
Pihaknya juga meminta jika ada wilayah permukiman sudah mulai mengalami kelangkaan air bersih yang kritis, segera berkoordinasi dengan perangkat desa atau agen bencana setempat agar armada tangki bantuan dari BPBD bisa langsung dijadwalkan dan didistribusikan secara berkala. (git/aro)
Editor : Lis Retno Wibowo