RADARMAGELANG.ID, Wonosobo — Siapa sangka, lembaran daun pisang yang selama puluhan tahun dijual Painah di Pasar Pagi Wonosobo akhirnya mengantarkannya menunaikan ibadah haji.
Setelah belasan tahun menabung dari hasil jualan daun pisang, Painah dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada Jumat (15/5/2026) malam elalui Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA).
Baca Juga: Perdana, Jemaah Haji Wonosobo Berangkat dari Embarkasi Yogyakarta International Airport
Di usianya yang tak lagi muda, Painah masih menjalani rutinitas berat setiap hari.
Sejak pukul 01.30 dini hari, dia sudah berangkat membawa ikatan daun pisang untuk dijual ke pasar.
Aktivitas itu telah dijalaninya selama puluhan tahun sebagai sumber penghidupan sekaligus jalan mengumpulkan biaya haji.
“Saya itu buruh. Buruh memetik daun, setiap hari tidak pernah telat. Itu sudah lebih dari 40 tahun,” ujar warga RT 03/RW 13, Dusun Ngedok, Kelurahan Wonosobo Barat itu, saat ditemui Senin (11/5/2026).
Dia menuturkan, daun pisang yang dipetik kemudian dilipat, ditimbang per kilogram, lalu dimasukkan ke dalam karung sebelum dibawa ke pasar.
Selama ini, hasil dari berjualan daun pisang menjadi satu-satunya sumber pendapatan yang dia andalkan.
“Kalau sekarang memetik, lalu dilipat, ditimbang satu kilo satu kilo, lalu dimasukkan ke karung terus dijual ke pasar. Dari itu jualan daun, tidak lain-lain,” katanya.
Harga daun pisang yang dijual berkisar Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram.
Penghasilannya pun tidak menentu. Dalam sehari, dia kadang hanya membawa pulang Rp 15 ribu, namun pada hari tertentu bisa mencapai Rp 200 ribu.
Painah menyisihkan sebagian uang hasil jualannya untuk tabungan haji.
Dia mengaku mulai mendaftar haji sejak tahun 2012 dan terus menabung sedikit demi sedikit dari hasil berdagang di pasar.
“Uangnya dikumpulkan di rumah. Kalau jualan kadang dapat Rp 200 ribu, kadang Rp 100 ribu, kadang Rp 50 ribu, kadang Rp 15 ribu. Saya jualan berangkat jam setengah dua dini hari sampai menjelang Subuh,” tuturnya.
Setelah berdagang pagi hari, dia menitipkan daun pisang ke sejumlah warung hingga siang.
Jika dahulu stok daun diambil dari pengepul, kini sebagian kebutuhan dagang sudah berasal dari kebun pisang miliknya sendiri.
Selama 14 tahun menunggu antrean keberangkatan, Painah mengaku sempat khawatir tidak sempat berangkat ke Tanah Suci karena faktor usia.
Dia bahkan sempat berpikir tabungan hajinya mungkin hanya akan digunakan untuk biaya perawatan jika sakit atau meninggal sebelum berangkat.
Kini penantian panjang itu akhirnya terbayar. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo