RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Ancaman tanah gerak di Kecamatan Kaliwiro semakin meluas. BPBD Wonosobo bersama RPB SAR Kaliwiro mendatangi Kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung, Selasa (9/12/2025), untuk meminta evaluasi terbaru terkait pergerakan tanah yang semakin membahayakan.
Kepala Pelaksana BPBD Wonosobo Sumekto Hendra Kustanto, menyebut tim membawa laporan kaji cepat yang menunjukkan pergeseran tanah semakin melebar dan merusak permukiman, fasilitas umum, hingga infrastruktur.
“Hal ini dilakukan untuk merespon kejadian tanah gerak beberapa waktu lalu yang semakin meluas dan merusak permukiman, fasilitas umum, dan infrastruktur di wilayah terdampak,” ungkapnya.
PVMBG menyampaikan kawasan Kaliwiro kini berada pada zona potensi tanah gerak sedang hingga tinggi. Situasi ini dinilai membahayakan dan memerlukan penanganan cepat.
Perwakilan PVMBG menekankan urgensi mitigasi untuk mengurangi ancaman kerugian besar. Kajian lama tahun 2021 juga dinilai tak lagi relevan sehingga perlu pembaruan. Dalam waktu dekat, PVMBG akan menurunkan tim untuk melakukan pengecekan lapangan.
“Menurut PVMBG langkah ini untuk dasar pembuatan rekomendasi langkah dan tindakan,” sambung Sumekto.
Hasil kajian nantinya disampaikan ke BNPB sebagai dasar kebijakan penanganan selanjutnya. BPBD meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat cuaca ekstrem.
“Kegiatan koordinasi hari ini berjalan lancar dan pengecekan lapangan akan segera dijadwalkan dalam waktu dekat ini,”imbuhnya.
Fenomena tanah bergerak terjadi di Dusun Purwo dan Krandegan, Desa Pucungkerep.
Kejadian serupa muncul hampir setiap tahun. Hujan deras kembali memicu pergeseran tanah sejak 29 Oktober 2025 dan terus berlangsung bertahap.
Sekitar 200 kepala keluarga tinggal di dua dusun terdampak. Ratusan rumah mengalami kerusakan ringan hingga berat. Beberapa bangunan bahkan sudah tak layak huni.
Rumah retak, lantai amblas, hingga struktur bangunan miring menjadi pemandangan yang membuat warga resah. Puluhan rumah disebut dalam kondisi parah.
“Sekitar 20 an rumah yang memang perlu perhatian dan renovasi (kondisinya parah). Terkait relokasi kita tunggu rekomendasi dari ESDM maupun Geologi, baru kita bisa ambil sikap,” jelasnya.
Kaliwiro sudah dikenal sebagai wilayah dengan kondisi tanah labil sejak puluhan tahun. Memasuki musim hujan, gejala pergerakan tanah terpantau masih berlangsung dan cenderung meningkat.
Wilayah terdampak berada di ketinggian sekitar 456 mdpl. Hingga kini, BPBD terus melakukan pemantauan sambil menunggu kajian terbaru dari PVMBG.(git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo