Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Desa Wisata Banyak yang Mati Suri, Disparbud Wonosobo Soroti Lemahnya Tata Kelola

Sigit Rahmanto • Rabu, 10 Desember 2025 | 00:13 WIB
Pesona Gunung Cilik di Kecamatan Kertek yang menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke salah satu desa wisata yang eksis di Wonosobo.
Pesona Gunung Cilik di Kecamatan Kertek yang menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke salah satu desa wisata yang eksis di Wonosobo.

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo — Banyak Desa Wisata di Kabupaten Wonosobo gagal tumbuh dan berkembang. Dari 57 desa wisata yang terdaftar, sebagian besar justru tak menunjukkan  aktivitas, tanpa program, dan tanpa pengelolaan, tenggelam dan mati. 

Hal itu diakui oleh Kepala Bidang  Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo, Fatonah Ismangil. 

Ia mengungkapkan kondisi itu setelah melakukan monitoring dan evaluasi di sejumlah lokasi untuk memastikan desa wisata di Wonosobo. Pasalnya sejak digencarkan beberapa tahun yang lalu, justru eksistensinya saat ini meredup. 

“Memang setelah kita evaluasi usai monitoring beberapa waktu lalu, banyak desa wisata yang tidak ada kegiatan sama sekali,” ujarnya. 

Padahal, Wonosobo memiliki 154 daya tarik wisata yang tersebar di berbagai kategori, mulai wisata alam, budaya, buatan, hingga minat khusus. Desa wisata diharapkan menjadi simpul penggerak ekonomi berbasis masyarakat. Namun fakta di lapangan jauh dari harapan.

Fatonah menyebut setidaknya ada dua penyebab utama mandeknya desa wisata. Yang pertama, dampak pandemi Covid-19. Banyak desa wisata yang tumbuh sebelum 2020 tak lagi mampu bangkit setelah pembatasan aktivitas diberlakukan.

“Kena Covid, jatuh, lalu tidak bisa naik lagi. Ini banyak terjadi saat kita turun kelapangan,” katanya.

Penyebab kedua justru lebih memprihatinkan. Sejumlah desa wisata awalnya aktif hanya untuk mengejar bantuan keuangan dari provinsi. Ketika bantuan cair, tata kelola tidak dibangun secara berkelanjutan. Akibatnya saatbantuan terhenti, diikuti aktivitas yang berakhir, fasilitas tidak terawat dan akhirnya mangkrak.

Kondisi itu diperparah oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang tidak berjalan. Sapta pesona yang menjadi roh pengelolaan wisata pun tidak berfungsi secara maksimal. 

Namun demikian, Desa Wisata Maron disebut sebagai salah satu yang masih konsisten. Manajemen pengelolaan dinilai masih berjalan, BUMDes dan Pokdarwis berjalan aktif. Maron bahkan kerap dijadikan rujukan bagi desa wisata lain.

“Desa Maron mampu menjaga tata kelola dan manajemen. Ini yang membuat mereka bertahan,” ujar Fatonah.

Disparbud menilai kondisi desa wisata yang mati suri harus dicarikan solusi. Intervensi lebih serius dibutuhkan, mulai dari pembenahan kelembagaan, pelatihan pengelola, hingga memastikan keberlanjutan program.

“Ini pekerjaan rumah bersama. Ada beberapa desa wisata yang harus kita intervensi lebih detail, lebih dalam, untuk mengetahui akar masalahnya,” ucapnya.

Apalagi saat ini, DPRD Kabupaten Wonosobo tengah menggodok peraturan terkait dengan Desa Wisata ini.

Sehingga diharapkan melalui aturan yang tengah dibuat ini bisa menjadi kebijakan yang bagus. Sehingga bisa menjadi ruang ekonomi yang dikelola masyarakat secara berkelanjutan. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#desa wisata #fatonah ismangil #disparbud wonosobo #mati suri