RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Sektor pariwisata Wonosobo menunjukkan geliat positif. Hingga September 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi tembus 2,2 juta orang, termasuk 2.160 wisatawan mancanegara.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyebut capaian tersebut menjadi bukti, pariwisata masih menjadi penggerak utama ekonomi lokal.
“Sektor ini menjadi bagian penting dari visi pembangunan daerah,” ujarnya belum lama ini.
Namun, Fahmi mengakui masih ada pekerjaan rumah besar, terutama terkait rata-rata lama tinggal wisatawan (length of stay) yang baru mencapai 1,53 hari.
“Angka ini belum sesuai harapan. Salah satu tantangan terbesar adalah menciptakan atraksi malam hari yang menarik agar wisatawan mau menginap lebih lama,” jelasnya.
Menurutnya, tren kunjungan tahun ini juga dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Seperti perlambatan ekonomi nasional, efisiensi anggaran pemerintah, serta kebijakan pembatasan wisata oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang wisatawan ke Wonosobo.
Dari sisi pendapatan daerah, kontribusi sektor pariwisata juga terbilang signifikan. Hingga pekan ketiga September, realisasi pendapatan sudah mencapai 69 persen dari target Rp 8,9 miliar.
“Ini menunjukkan strategi penguatan ekosistem wisata mulai berbuah hasil,” tegas Fahmi.
Fahmi menyebut Dieng Plateau tetap menjadi magnet utama bagi wisatawan. “Dari hasil survei maupun percakapan di media sosial, Dieng masih menjadi destinasi paling menarik dengan segala persona alam dan budayanya,” katanya.
Meski begitu, pihaknya berupaya mengurangi ketergantungan terhadap satu destinasi dengan memperbanyak atraksi di daerah lain. Salah satunya melalui Festival Balon Udara yang kini sudah mendunia.
“Tahun ini ada dua peserta dari Brazil dan Kolombia, dan tahun depan akan bertambah enam negara lagi seperti Argentina, Prancis, Meksiko, dan El Salvador,” ungkapnya.
Momentum penting tahun ini adalah penetapan Dieng sebagai Geopark Nasional oleh Badan Geologi.
Menurut Fahmi, konsep geopark membuka peluang ekonomi baru dengan mengombinasikan warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya lokal.
“Selain memperkuat posisi Dieng di kancah nasional dan internasional, penetapan ini juga memperluas kolaborasi dengan Banjarnegara sebagai bagian dari kawasan Geopark Dieng,” paparnya.
Ke depan, Disparbud mendorong seluruh pemangku kepentingan wisata agar menghadirkan paket wisata tematik, atraksi malam, dan kolaborasi dengan pelaku usaha lokal.
“Kami ingin wisatawan bisa menginap dua malam. Misalnya datang sore, menginap, menjelajah Dieng, lalu menikmati atraksi malam atau kuliner kota,” ujarnya.
Salah satu lokasi yang kini menjadi fokus pengembangan adalah kawasan Kalianget. Disparbud berencana menghadirkan panggung kesenian, pertunjukan jathilan, serta wahana rekreasi keluarga untuk menarik lebih banyak pengunjung malam hari.
Selain destinasi utama, wisata berbasis desa juga mulai digarap serius. Dalam waktu dekat, Disparbud akan meluncurkan Desa Wisata Kwadungan, sebagai bagian dari upaya pemerataan manfaat ekonomi pariwisata.
“Peran dinas bukan sekadar mengejar PAD, tapi mengarusutamakan wisata sebagai nafas keseharian masyarakat,” tegasnya.
Fahmi juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur dan informasi publik, termasuk memastikan akses jalan menuju Dieng tetap lancar meski ada proyek pembangunan.
Menatap tahun 2026, Pemkab Wonosobo menyiapkan program wisata minat khusus, seperti live in desa, kuliner lokal, hingga pengalaman budaya khas Wonosobo.
“Tren wisata kini bergeser. Turis ingin tinggal di desa, menikmati keseharian warga, kuliner, dan budaya lokal. Itu yang sedang kami siapkan,” pungkasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo