RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Ancaman longsor mulai menghantui warga Desa Kalidesel, Kecamatan Watumalang, seiring datangnya musim penghujan. Tebing di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga dilaporkan mengalami keretakan dan berpotensi terjadi longsor susulan.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo pun bergerak cepat. Kepala DPUPR, Nurudin Ardianto, menyebut langkah darurat akan diprioritaskan untuk mencegah kerusakan lebih parah.
“Kami sudah menugaskan tim di lapangan untuk mengidentifikasi penyebab, bukan hanya akibatnya. Penanganan darurat perlu dilakukan segera agar stabilitas lereng tetap terjaga,” tegasnya saat dikonfirmasi, kemarin.
Menurut Nurudin, keterbatasan anggaran membuat pembangunan permanen belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Untuk sementara, DPUPR mengandalkan teknologi sederhana seperti cerucuk bambu, karung, hingga pembuatan teras siring.
“Baru nanti kalau sudah stabil, akan kami bangun permanen. Kalau dipaksakan buru-buru justru berpotensi membahayakan,” imbuhnya.
Ia menegaskan, penanganan di Kalidesel membutuhkan dukungan penuh masyarakat. Pemilik lahan di sekitar lokasi longsor diminta ikut menata kelerengan. Vegetasi seperti rumput vertiver hingga bambu jenis ampel akan ditanam untuk memperkuat tebing.
“Ada hal-hal yang tidak harus pakai semen. Vegetasi juga efektif menjaga stabilitas,” jelasnya.
Meski berdekatan dengan permukiman, DPUPR memastikan belum ada rencana pengungsian warga. Fokus utama saat ini adalah memastikan keamanan jalan dan pemukiman melalui penanganan darurat. “Saya sudah minta agar stabilisasi tebing segera dilakukan. Minimal untuk menjamin keselamatan warga sekitar,” tandasnya.
Nurudin menyebut, kebutuhan anggaran penanganan permanen di titik rawan Kalidesel mencapai sekitar Rp 900 juta. Namun realisasinya masih bergantung pada ketersediaan dana tak terduga (TT). Jika tidak ada, maka DPUPR hanya akan mengandalkan penanganan darurat sambil memantau perkembangan kondisi lereng.
Diketahui, hujan deras yang mengguyur Kabupaten Wonosobo sejak Rabu (17/9/2025) lalu sejak siang hingga malam memicu tanah longsor di jalur alternatif menuju kawasan wisata Dieng. Peristiwa itu terjadi di Desa Kalidesel, Kecamatan Watumalang, dan membuat separo badan jalan amblas terbawa material tanah.
Kalak BPBD Kabupaten Wonosobo, Sumekto Hendro Kustanto, saat dikonfirmasi Kamis (18/9/2025), menjelaskan tanda-tanda pergerakan tanah mulai terlihat sejak Rabu malam. “Sekitar pukul 19.00 muncul retakan memanjang sepanjang 20 meter di atas senderan jalan. Kondisinya saat itu hujan deras, jadi kami hanya bisa melakukan pemantauan,” ujarnya.
Namun, situasi makin memburuk keesokan harinya. Senderan jalan tak mampu menahan tekanan air, hingga akhirnya longsor sepanjang enam meter terjadi dan menyeret separuh badan jalan.
Akibatnya, kendaraan roda empat untuk sementara tidak bisa melintas. “Kami imbau pengguna jalan mencari jalur lain. Hanya motor yang bisa lewat, itu pun harus sangat berhati-hati,” tambah Sumekto. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo