RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Wonosobo sejak Rabu (16/9/2025) siang hingga malam memicu tanah longsor di jalur alternatif menuju kawasan wisata Dieng.
Tepatnya di Desa Kalidesel, Kecamatan Watumalang. Akibat longsor, separo badan jalan amblas terbawa material, membuat jalur itu rawan dan tak bisa lagi dilalui kendaraan roda empat.
Kalak BPBD Kabupaten Wonosobo, Sumekto Hendro Kustanto, saat dikonfirmasi Kamis (17/9/2025) pagi, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menuturkan, tanda-tanda pergerakan tanah sudah terlihat sejak Rabu malam.
“Sekitar pukul 19.00 muncul retakan memanjang sekitar 20 meter di atas senderan jalan. Pada malam itu kondisi hujan deras, jadi kami hanya bisa melakukan pemantauan,” ungkapnya.
Namun, situasi memburuk pada Kamis dini hari. Retakan yang semula hanya memanjang berubah menjadi longsor sepanjang enam meter.
Senderan jalan tak mampu menahan tekanan air hujan yang terus mengguyur. Material tanah dan batu kemudian menimbun separo badan jalan, menyebabkan jalur vital itu nyaris putus.
Badan jalan yang ambrol menjadi ancaman serius bagi para pengguna jalan. Hingga Kamis pagi, hanya sepeda motor yang bisa melintas dengan sangat hati-hati.
“Untuk roda empat sudah tidak memungkinkan. Kami imbau masyarakat mencari jalur alternatif lain menuju Dieng,” lanjut Sumekto.
Selain mengganggu akses transportasi, longsor juga berdampak pada sektor pertanian. Pasalnya, wilayah Kalidesel selama ini dikenal sebagai salah satu sentra sayur di Kecamatan Watumalang.
Tidak hanya lahan warga yang terancam, tetapi longsoran juga mengenai fasilitas layanan pertanian yang berada tepat di bawah tebing jalan.
“Kalau hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, dikhawatirkan material longsor akan makin meluas ke area pertanian di bawahnya. Ini jelas mengganggu aktivitas warga yang sehari-hari menggantungkan hidup dari bertani,” tutur Sumekto.
Kondisi itu membuat warga resah. Banyak petani yang setiap hari melintas di jalur tersebut untuk mengangkut hasil panen harus memutar lebih jauh.
Beberapa di antaranya bahkan memilih menunda aktivitas ke ladang karena akses yang semakin terbatas.
Terlebih, jalan via Watumalang sendiri selama ini menjadi alternatif penting bagi wisatawan menuju Dieng maupun warga sekitar. Ketika jalur utama via Kertek atau Garung padat, jalur ini kerap jadi pilihan.
Putusnya akses di Kalidesel bukan hanya mengganggu arus wisata, tetapi juga mengancam distribusi hasil pertanian dari wilayah tersebut.
BPBD bersama pemerintah kecamatan, polsek, dan Koramil Watumalang kini terus memantau lokasi. Namun, penanganan teknis belum bisa dilakukan karena hujan deras masih mengguyur kawasan itu.
“Alat berat tidak bisa langsung diturunkan karena kondisi tanah masih labil. Kami fokus memastikan tidak ada korban jiwa dan pengguna jalan terutama roda empat benar-benar menghindari lokasi,” tegas Sumekto.
Ia menambahkan, masyarakat di wilayah rawan longsor diimbau tetap waspada. Intensitas hujan di Wonosobo diperkirakan masih tinggi beberapa hari ke depan, sehingga potensi bencana susulan bisa terjadi kapan saja. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo